Dream Pamungkas

Ayat AL QUR'AN
Solidaritas Palestina
Software Computer Tips
MER~C
Software Computer Tips
Jadwal Adzan
Ar-Roya
On Facebook



Islam-Download.net
Software Computer Tips
Ketika Rosululloh berada disamping kita (Sebuah Renungan)
Jumat, 16 Juli 2010
Ketika Rosululloh berada disamping kita  (Sebuah Renungan)
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh”  sapanya. “Wahai saudaraku, betulkah engkau benar-benar beriman kepadaku disamping beriman kepada Allah? Sudahkah keimananmu itu menjadikanmu  tenteram dan tidak mencari kedamaian dari keimanan-keimanan yang lain?
“Wahai saudaraku, benarkah cintamu kepadaku lebih dalam dan besar dari cintamu kepada harta, jabatan dan keluargamu? Sudahkah engkau siap untuk mengorbankan kedudukanmu yang begitu engkau banggakan ketika Sunnahku mengharuskan engkau berkata benar dan bertindak tegas dan jabatan adalah taruhannya? Bukankah engkau telah melihat bagaimana nasib ummatku yang kelaparan, telanjang kedinginan dan tidur di bantalan kereta api? Sudahkah engkau  berbuat sesuatu dengan hartamu?
"Wahai saudaraku, sesekali aku mendengar engkau membaca Shalawat kepadaku, bersenandung diba dan barzanzi  memujiku sudahkah engkau benar-benar menghayati maknanya dan merenung arti yang terkandung didalamnya? Masihkah engkau ingat dengan isi Sholawat dan pesan barzanzi ketika engkau berada diproyek, saat melakukan tender, saat transaksi keuangan, saat memilih bank, saat memilih asuransi, saat meluncurkan produk baru, saat sales promotion, saat memilih sales-girl, saat meramcang iklan, saat menentukan pakaian model iklan, saat membahas PERDA di DPRD, saat meminta pengusaha membayar sejumlah dana untuk meloloskan RUU, saat menentukan SPJ, saat melihat korban tsunami, saat mendengar adanya gempa, saat menerima korban, Lumpur? Atau engkau hanya membaca Shalawat untuk lip service saja dngan harapan aku akan memberimu syafaat di Padang Mahsyar di Hari Kiamat nanti? Mulutmu mengucap tetapi hatimu kosong, fikiranmu menerawang, dan tindakanmu teramat jauh dari Sunnah ku”.
“Wahai saudaraku, mohon maaf dan jangan tersinggung jika aku bertanya demikian, itulah yang aku amati dari kebanyakan ummatku saat ini baik di Indonesia maupun belahan bumi Allah lainnya. KTP nya Muslim tetapi tindak tanduknya Masya Allah… Sungguhpun demikian jangan kawatir saudaraku, Aku sebagai Rosul Allah akan tetap berdo’a kepadaNya untuk  keselamatan semua. Aku akan tetap memberikan Syafaa’atku kepadamu selama engkau tidak menyekutuan Allah dan tidak terlalu banyak membuat dosa-dosa besar.”
Wahai saudaraku aku bahagia engkau telah membaca perjalanan dakwah dan riwayat hidupku. Aku berharap disetiap disetiap lembaran buku yang kau baca akan kau dapatkan hikmah dan pencerahan serta motivasi untuk berjuang menuju hari esok yang lebih baik”.
“Aku memahami hidup semakin hari semakin sulit apalagi di kota-kota besar. Harga barang dan kebutuhan semakin hari semakin mahal, pendidikan semakin elitis, kesehatan semakin tidak terjangkau, transportassi tidak murah dan amburadul. Aku melihat diantara kalian ada yang stress dan ciut nyalinya. Demikian pula anak-anak kalian yang sudah beranjak remaja  dan dewasa. Mereka seolah limbung melihat kebingungan orang tuanya dan tidak terlalu bergairah melihat masa depan mereka sendiri.“
“Jangan sedih, saudaraku! Aku dulu juga mengalami masa-masa yang sulit diusia kecilku. . Aku terlahir sebagai yatim. Setelah berusia enam tahun, ibu tercinta pun mangkat di kampung Abwa saat pulang dari pusara ayahku di Madinah. Saat itupun aku bertanya pada Ummu Ayman, pembantu setia Ibuku kemana aku harus pergi? Di rumah siapa aku harus tinggal? Siapa yang akan membiayai sekolahku, Siapa yang akan membelikan bajuku? Siapa yang akan merawatku? Siapa yang akan memberikan belai kasih sayang padaku? Ayahku telah meninggal, kini Ibu ku menyusul pula.”
“Ummu ayman membesarkan hatiku dengan membawaku ke kakanda tercinta Abdul Muththolib. Beliau mencurahkan kasih dan sayangnya kepadaku tetapi apa dinyana hanya berselang dua tahun ia pun dipanggil Allah SWT. Kini aku harus mencari tempat berteduh lagi. Syukurlah kakenda menitipkanku dengan Abu Thalib, saudara tua ayahku. Aku harus berterima kasih dan berbesar hati dengannya di rumahnya, meskipun pamanda adalah orang yang keadaan finansialnya tidak terlalu ajeg dan sering kekurangan makan dirumah.”
Untuk meringankan beban ekonomi aku bekerja “serabutan”. Sebagai anak remaja aku mengerjakan apa saja asalkan halal; dari menggembala kambing, mencari kayu bakar, sampai memikul batu untuk pembanguna rumah tetangga. Semua itu aku lakukan sebagai bagian self development dan leadership development.
“Wahai saudaraku, aku juga gusar mendengar banyak sekali ummatku yang tidak mau berusaha dan memulai bisnis karena alasan klasik; tidak punya modal, tidak punya uang dan tidak punya jaminan untuk pinjam. Sesungguhnya untuk menjadi entrepreneur tidak melulu seluruhnya harus diawali dengan modal uang setumpuk. Menurutku, money is the not number one capital in business., the number one capital in bussines is trust (amanah) and competency. Uang bukanlah modal utama dan segala-galanya dalam bisnis. Modal utama dalam bisnis adalah kepercayaan dan kompetensi. Bukankah engkau sudah melihat sendiri aku telah buktikan bahwa tanpa modal secuil pun aku bisa menjalankan bisnis dengan menerima amanah dagangan para investor makkah. Dengan kepercayaan itu aku berdagang menjual barang mereka dan berbagi hasil atas dasar system mudharabah. memang benar,untuk mendapat kepercayaan tidaklah mudah; kita harus jujur, walk the walk, melaksanakan apa yang anda katakan, tidak mengumbar janji dan teguh memegang kepercayaan orang.”
“Sungguh pun demikian, jujur saja ternyata tidak cukup. Syarat berikutnya anda harus fathonah atau kompeten dibidang anda. Kalau sebagai pedagang anda harus tahu barang apa yang laku dan sedang model saat ini, bagaimana customer behavior masyarakat suatu daerah, apakah mereka hidup dengan 2 musim (penghujan dan kemarau) atau mereka memiliki 4 musim (spring, autumn, summer, winter). Anda harus memiliki selling skill yang baik, murah senyum, sabar meladeni nasabah, service excellence dan on-time dalam delivery barang. Di samping itu anda juga harus banyak bergaul dan memperluas network, jangan jadi jago kandang sambil mengharap proteksi dari pemerintah. Ketika aku muda dulu, Aku jajakan barang dagangan Makkah di Madinah, dari Madinah aku ke pasar al-Rabih di Hadralmaut, Souq San’a dan souq Aden di Yaman, pasar Suha dan pasar Daba di Oman, kota Jerassh di Jordan, dan pasar al-Mushaqqadar di Bahrain.”
“Mohon diingat dengan baik saat itu belum ada pesawat terbang seperti kalian pakai saat ini. Aku menunggang unta, mengarungi lautan padang pasir yang sangat panas dan berbahaya, tanpa toilet, tanpa AC, tanpa pramugari atau makanan siap saji. Saat itu aku juga menghadapi kesulitan untuk berkomunikasi dengan investorku di Makkah karena belum ada fax, email apalagi SMS atau fasilitas teleconference. Lebih dari itu aku juga harus menjaga hasil penjualan dengan ekstra ketat karena belum ada bank dan safe deposit box. Kalau sedang butuh uang tunai tambahan, aku harus pandai pandai mensiasati karena saat itu belum ada ATM seperti saat ini.”
“Mengenai masalah keluarga, terkadang Aku suka sedih kalau mendengar sebagian orientalis dan sebagian ummatku yang berfikir seperti orientalis menuduhku dengan tuduhan yang menyakitkan. Mereka menuduhku sebagai seorang hipersex, fedofil dan memiliki istri yang tidak terbatas jumlahnya. Seolah tidak ada cerita lain dari kehiidupan rumah tanggaku kecuali poligami.”
“Jika anda melihat perjalanan hidupku anda akan melihat bahwa selama 25 tahun atau lebih aku hanya memiliki seorang istri Khadijah Binti Khuwalaid. Disaat Khadijah hidup cintaku hanya untuk dirinya. Pada usia sekitar 51 tahun baru aku diamanahi Allah untuk mencari pengganti Khadijah, guna menemani perjuangan dakwah ini.”
“Lebih penting lagi jika anda perhatikan hampir semua istri-istriku setelah Khadijah adalah janda-janda yang tidak jarang usianya lebih tua dariku. Saudah binti Zam’ah misalnya berusia 65 tahun saat aku berusia 51 tahun. Ia adalah janda dengan 12 anak yang ditinggal mati oleh suaminya Sukran bin Amsal al-Anshari. Demikian juga Maimunah binti al-Harits janda Ruham bin Abdul Uzza, ia berusia 63 tahun saat aku berusia 58 Maimunah banyak membantuku dalam dakwah dikalangan Yahudi bani Nadhir, karena ia adalah keturunan yahudi. Sama juga halnya dengan Juwariyyah binti Harits al-Khuzaiyyah, ia berusia 65 tahun ketika Aku 57. Ia termasuk janda miskin dengan 17 anak. Satu-satunya wanita yang dinikahi dalam keadaan gadis adalah ‘Aisyah dan Maria al-Qibthiyyah, seorang budak yang dihadiahkan oleh al-Muqauqis Mesir lalu kumerdekakan.”
“Wahai saudaraku, aku bersyukur melihatmu dan teman-temanmu yang lain giat mendakwahkan Islam. Memang sudah selayaknya setelah kita menikmati manisnya iman dan lezatnya bermunajat kepada Allah kita harus sharing dan ajak saudara-saudara kita mendapatkannya. Dakwah yang benar adalah dakwah yang keluar dari hati, disampaikan dengan bahasa yang santun dan memperhatikan kondisi psikologis teman bicara kita. Dakwah adalah suatu proses tranformasi hati, fikiran dan tindakan. Oleh karena itu dakwah memerlukan waktu dan kita harus sabar menjalaninya. Lebih dari itu dakwah memerlukan pengorbanan baik waktu, dana, posisi serta jabatan dan bahkan kadang nyawa anda.”
“Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa dakwah yang paling utama adalah dakwah dengan suri tauladan. Usahakanlah dengan maksimal untuk Sholat Tahajjud secara teratur sebelum kita mengajak orang lain bangun Sholat Malam. Bermurah tanganlah kepada kerabat dekat dan handai taulan serta fakir miskin sebelum kita mengajak orang bershodaqoh. Berhentilah merokok sebelum menyuruh anak anda berhenti merokok. Tekanlah ego anda dan tebarkanlah senyum sebelum anda menyuruh orang lain berperilaku santun.”
“Ketahuilah, bahwa yang paling aku sedihkan saat ini adalah buruknya citra Islam karena buruknya perilaku sebagian Ummatku. Mereka bernama Muhammad, Abdullah, Thariq, Badruddin, Saifullah, Ansyari tetapi kelakuannya jauh lebih biadab dari orang-orang jahiliyah di zamanku. Perangai buruk mereka jelas akan sangat negatif dampaknya terhadap dakwah islam. Karena orang diluar sana akan melihat cerminan Islam dari apa yang dilakukan oleh para pemeluknya.”
“Wahai saudaraku berusahalah untuk bergaul dan membina hubungan kemasyarakatan secara harmonis, karena kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa orang lain. Memang tidaklah mudah untuk bergaul apalagi mengatur orang banyak. Mereka datang dari berbagai latar belakang dengan kepentingan yang berbeda-beda.”
“Janganlah berkecil hati bila bila berjumpa dengan orang yang sulit diatur atau bermuka dua karena dulu pun aku pernah mengalaminya. Anda bayangkan bagaimana sulitnya menyatukan ratusan atau ribuan pengungsi dari Makkah (Muhajirin) yang kelaparan, tidak punya harta, tidak punya mata pencaharian dan tidak punya rumah di Madinah. Mereka meninggalkan segalanya di Makkah demi Keimanannya. Aku juga bertanggung jawab untuk membesarkan hati orang Madinah untuk menolong para pengungsi tersebut. Ironisnya penduduk Madinah pun tidak homogen. Diantara kaum Anshar ada kabilah Auz dan kabilah Khazraj yang sudah ratusan tahun berperang memperebutkan pepesan kosong. Disamping Auz dan Khuzraj ada juga kaum kristiani bani Najran dan belasan suku yahudi yang sangat kuat mencengkram perekonomian Madinah. Mereka itu adalah bani Nadhir, bani Qainuqa’, banin Quraizhah, bani Ikrimah, bani al-Syaziyah, bani Mahmar, bani Zau’ra, bani Jusy’am, bani Bahdal, bani al-Qisash, dan bani Sa’labah. Tetapi Aku bersyukur kepada Allah dapat menyatukan mereka melalui Piagam Madinah. Melalui Piagam Madinah mereka bahu membahu membangun kota dan peradaban baru.”
“Wahai saudaraku, ada dua cara yang kuterapkan dalam membina individu demikian juga masyarakat agar tertib dan teratur yaitu melalui pendidikan dan penegakan hukum. Ingatlah, ketika pendidikan Aku tidak bermaksud dengan proses alih informasi dan transmisi data semata, tetapi kumaksudkan adalah Tarbiyyah yang terambil dari kata Rabba , Yarbu (tumbuh, bertambah, berkembang) atau Rabba, Yarubbu (mengatur ,mengurus, mendidik). Tarbiyyah mengambil tempat bukan hanya di kelas, tetapi di rumah, di Masjid, di gunung, saat Sholat, saat Berhaji, saat berolah raga, saat rapat, dan ketika berinteraksi dengan masyarakat. Aku berharap dengan Tarbiyyah yang benar ummatku akan melakukan transformasi dan berkembang ke arah yang lebih baik dari sisi fisik, intelektual, financial dan spiritual.”
  “Kalau engkau pelajari hadits-haditsku, engkau akan mendapatkan belasan bahkan puluhan metode yang telah ku contohkan agar proses Tarbiyyah dapat berjalan dengan baik. Diantara metode-metode tersebut adalah learning conditioning, active interactyion, appied-learning method, scanning and leveling, discussion and feedback, story-telling, analogy and case study, teaching and motivating, body language, picture and graph technology, reasoning and argumentation, self-reflection, affirmation and repetition, focus and point basis, question and answer method, guessing with question, encouraging students to ask, wisdom in answering question commenting on student question and honesty.”
“Walaupun metode-metode Tarbiyyah dariku sudah sangat beragam, tidak sedikit dari ummatku yang tetap keras kepala dan bebal. Mereka tidak bisa ditundukkan dengan ajaran Al-Qur’an atau hadits-hadits yang berisi nasihat-nasihat. Sebagian ummatku tidak bergeming ketika mendengar larangan minuman keras. Mereka baru berhenti mabuk ketika cambuk mengenai badannya. Mereka juga tidak takut dengan larangan mencuri, tangannya baru berhenti korupsi ketika dirinya sudah didalam penjara. Mereka juga tidak sungkan-sungkan menggauli wanita diluar nikah, tidak takut dengan peringatan zina sampai penyakit AIDS yang berupa kutukan ALLAH menimpanya. Oleh karena itu system perlu ditegakkan.”
“Ingatlah wahai saudaraku, tegakkanlah hukum dengan Seadil-Adilnya! Dengarkanlah alasan dan argumentasi dari seetiap pihak sehingga kau mendapat gambaran dengan penuh. Jika dating seorang dengan berperkara dengan memperlihatkan matanya yang hancur sebelah sabarlah dahulu sampai pihak kedua dating, siapa tahu pihak kedua dating dengan kedua mata yang hancur dan buta. Janganlah kau bersikap keras kepada yang lemah dan lunak kepada yang kuat. Jangan kau putar balikkan putusan perkara hanya karena uang sepuluh, dua puluh, seratus atau dua ratus juta, atau sepuluh, dua puluh milyar. Ingatlah, berapapun uang sogokan yang engkau terima tidak akan cukup untuk menebusmu dari siksaan ALLAH di Neraka Jahannam. Lebih dari itu, semakin banyak uang haram yang engkau terima semakin banyak kayu bakar neraka yang akan dinyalakan dengannya.”
“Wahai saudaraku, jagalah agama Islam ini baik-baik! Aku dan Shahabat-shahabatku dahulu memperjuangkannya dengan tetesan keringat, air mata dan darah. Selama sepuluh tahun tidak kurang dari sembilan peperangan besar dan lima puluh tiga ekspedisi militer ku jalani. Dengan segala kekurangan bekal dan kesederhanaan senjata, sedikit demi sedikit bumi ALLAH dibebaskan dari belenggu kejahiliyahan.”
“Wahai saudaraku, janganlah egois dan sok sibuk, sehingga tidak mau berjuang serta berkorban untuk Islam, karena alasan keterbatasan waktu bisnis dan mengurusi proyek. Niscaya jika Shahabatku Abu bakar,  Umar, Utsman, Ali, Hamzah, Saad bin Abdurrahman ibn Auf mengatakan “I am too busy with my business, I don’t have time for Islam” Aku yakin Islam tidak akan sampai ke Jakarta, Surabaya, Medan, Brunei, Kuala Lumpur, New Delhi, Islamabad, Tunisia, atau Casablanca, juga Kampung Halaman kalian masing-masing. Islam sampai ketempat kalian karena jasa-jasa mereka.”
“Wahai saudaraku, dalam setiap ekspedisi militerku terdapat Ibrah, Pelajaran dan Hikmah  yang berguna ketika engkau menyusun strategic planning baikuntuk pengembangan bisnis, pendidikan, memajukan karir ataupun bidang sosial kemasyarakatan.”
“Wahai saudaraku, akhirnya aku ingin meninggalkan dua hal sebagai oleh-oleh perjumpaanku denganmu. Ambil keduanya dengan baik peganglah erat-erat, Aku berjanji selama engkau berpedoman kepada keduanya engkau akan sukses di dunia dan akhirat. Itulah Al-Qur’an dan Sunnahku.”
Setelah cukup puas mendengarkan Rosulullah bertutur dan memberi nasihat akhirnya anda berkata, “Terima Kasih Banyak Wahai Baginda Rosul, Engkau telah memberikan nasihat dan suri tauladan yang begitu mulia hari ini padaku.” Tidak lama setelah itu anda pun berpisah dengan menyalami dan memeluk Rosul Mulia itu.
Penutup;
Teman-teman saya mohon maaf jika dalam menggambarkan diskusi dengan Rosulullah ada yang tidak pada tempatnya. Tetapi pada intinya kita harus mempersiapkan jawaban jika satu saat nanti berjumpa dengannya dan beliau menyapa kita, “Benarkah kau cinta Kepadaku? Sejauh mana kau telah mengikuti Sunnahku? Sudahkah kau amalkan Suri Tauladanku? Sejauh mana Ia telah mewarnai Kehidupanmu?
Mudah-mudahan kita dapat memberikan jawaban seperti yang beliau kehendaki ketika Beliau mengemukakan pertanyaan-pertanyaan diatas diperjumpaan dengan Beliau kelak di Akhirat…AMIIN YA RABB AL-ALAMIN.
 
 Inspirasi dari buku “MUHAMMAD SAW The Super Leader Super Manager”
(Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec  / Nio Gwan Chung)
posted by Jony Pamungkas @ 21.31  
0 Comments:

Posting Komentar

<< Home
 
Mengenai Saya

Name: Jony Pamungkas
Home: Indonesia
See my complete profile
Waktu adalah Pedang
Posting Sebelumnya
Arsip
Lintas Berita
Spirit

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman" (QS. Al-Imran : 139)

Save Palestine!

pal
BLOGGER


I made this widget at MyFlashFetish.com.