(waktu adalah kehidupan...modal hidup adalah nafas... engkau adalah rangkaian untaian nafas... )
"Demi masa". Al Ashr, menurut pendapat yang terkuat adalah ad dahr atau az-zaman (masa). Mengapa bersumpah dengan waktu? Allah bersumpah dengan (demi) waktu karena nilai urgensitasnya. Dalam (masalah) waktu, manusia terbagi menjadi dua keadaan: (yang) merugi dan beruntung.
Barangsiapa (yang) menghabiskan waktunya untuk perbuatan sia-sia dan kebatilan, untuk hal-hal yang kufur dan maksiat, maka ia merugi. Namun, jika ia menggunakan waktunya untuk ketaatan, belajar ilmu agama, dakwah amar ma'ruf nahi munkar, untuk jihad melawan musuh-musuh Allah, maka ia beruntung, dengan menghuni surga Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab, manusia tidak diciptakan dengan sia-sia. Allah menciptakan manusia untuk tujuan yang agung, yang menjadi tonggak penegakan langit dan penghamparan bumi. Allah berfirman (artinya): "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh". [Adz Dzariyat : 56-58].
Allah mengutus para nabi dan menurunkan kitab suci agar tidak ada yang disembah kecuali hanya Allah, dan agar Allah tidak disembah kecuali sesuai dengan tuntunan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi, yang pertama ialah memurnikan agama untuk Allah. Dan kedua memurnikan mutaba'ah (sikap meneladani) hanya kepada Rasulullah. Kedua hal inilah yang menjadi konsekuensi dari firman Allah:
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya". [Al-Kahfi : 110].
Karena itu, langit dan bumi tegak di atas dua pilar:
1) Tidak ada yang disembah, kecuali hanya Allah, dan
2) mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara lahir dan batin.
Inilah konsekuensi dua kalimat syahadat, yang berarti tidak ada yang berhak disembah di alam semesta ini kecuali hanya Allah. Dan tidak ada yang diikuti secara benar kecuali Rasulullah. Barangsiapa yang tidak menyembah Allah dan tidak mengikuti Rasulullah, atau menyembah Allah tetapi tidak mengikuti Rasulullah, maka ia merugi selama-lamanya.
Allah bersumpah dengan waktu lantaran keagungan fungsionalnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Padahal Allah berkuasa menciptakannya dalam sekejap dengan cukup mengatakan: كُنْ (jadilah). Akan tetapi, Allah ingin memberikan satu teladan dan ketentuan hukum dalam hidup ini. Yaitu agar kita beraktifitas dengan mengoptimalkan waktu. Jika seseorang berkeinginan kuat mempertahankan nyawa dan cahaya matanya, maka ia harus lebih kuat keinginannya dalam memanfaatkan waktunya. Sebab, waktu adalah kehidupan. Ia lebih mahal dari harta. Mereka mengatakan, waktu adalah emas. Yang benar, waktu lebih mahal dari emas. Waktu adalah umur. Modal kita adalah nafas. Nafas yang telah dihembuskan tidak dapat kembali lagi. Engkau adalah rangkain untaian nafas. Jika nafas-nafas itu habis, maka tamatlah riwayat kehidupanmu.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan tentang kewajiban mengoptimalkan waktu meskipun pada hembusan nafas yang terakhir. Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tuntunlah orang yang mau meninggal di antara kamu untuk mengucapkan لااله الاالله , sebab orang yang akhir ucapannya لااله الاالله pasti masuk surga". Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkan kalimat tauhid ini? Sungguh, dapat diucapkan dalam hitungan detik. Perhatikanlah, betapa beruntungnya orang yang memanfaatkan beberapa detik saja dari waktunya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm menjelaskan pentingnya bekerja dan beramal, dan buruknya berpangku tangan atau bermalas-malasan. Beliau selalu memohon perlindungan kepada Allah dari penyakit malas yang mematikan ini. Rasulullah bersabda: "Apabila terjadi Kiamat, sementara di tangan salah seorang kalian ada biji kurma (atau tunas pisang), maka tanamlah".
Orang yang melihat matahari terbit dari barat masih diperintahkan untuk bercocok tanam dan beramal. Karena itu, mencari ilmu adalah kewajiban yang tidak mengenal batas akhir. Adapun hadits "mencari ilmu itu sejak berada di ayunan ibu hingga masuk liang lahat" dan hadits "carilah ilmu walau di negeri Cina", keduanya adalah dhaif (lemah).
Cukuplah bagi kita hadits shahih ini untuk merangsang semangat mencari ilmu : "Barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan masuk surga. Para malaikat itu membentangkan sayapnya untuk orang yang mencari ilmu karena ridha dengan apa yang ia cari. Sesungguhnya orang alim itu dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan penduduk bumi, hingga ikan yang ada di dalam air". [HR Abu Dawud, Ibn Majah, Ibn Hibban, hadits ini shahih].
Umur umat Islam ini pendek, akan tetapi amalannya banyak dan pahalanya dilipatgandakan. Nabi Nuh Alaihissallam selama 950 tahun berdakwah menyerukan tauhid (dan) kita tidak mengetahui berapa lama dia hidup sebelum dan sesudah itu, tetapi amalan dan pahala mereka sedikit. Sementara umat ini, yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm bahwa usia umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit sekali yang melebihi batas itu. Akan tetapi pahalanya dilipatgandakan. Perhatikanlah, misalnya lailatur qadar yang pahalanya -barangsiapa melaksanakan ibadah pada malam itu- maka pahalanya sama dengan beramal selama 83 tahun. Bagaimana jika dia beramal selama 10 kali lailatur qadar? Tentu nilainya sama dengan 830 tahun. Dan kalau 20 kali, maka sama dengan 1660 tahun. Maka, seolah-olah kalian telah mengungguli Nuh Alaihissallam. Lalu bagaimana lagi jika melakukan haji, umrah, jihad, dan sebagainya?
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Allah bersumpah demi masa. Kesempatan di dunia adalah ladang amal bagi akhirat; akan beruntung orang yang untung, dan merugilah orang yang rugi.
(Perhatikanlah!), tujuan hidup di dunia ini untuk menanam kebaikan dan amal shalih yang dapat dipetik buahnya di akhirat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah telah memutus udzur orang yang dipanjangkan usianya hingga 60 tahun". Artinya dia tidak lagi memiliki alasan lagi untuk membela diri di hadapan Allah.
Kalian sekarang berada pada masa muda, masa kuat, masa produktif dan beramal. Islam dimenangkan melalui tangan anak-anak muda. Mereka adalah tulang punggung umat, aliran darah yang dipacu di dalam tubuh umat. Sehingga syetan sangat berambisi menjauhkan para pemuda dari agama Allah ini. Syetan mengendus-endus hati pemuda. Jika ia mendapatinya pemalas, maka syetan menyeretnya agar menjadi sampah masyarakat dan perusak kehidupan. Akan tetapi, bila melihatnya cinta agama, maka syetan menipunya agar melampaui batas dalam beragama, sehingga ia hidup dalam bid'ah yang merusak agama.
Semua manusia berada dalam kerugian yang besar, kecuali orang-orang yang memiliki empat sifat, sehingga dapat keluar dari kerugian menuju keberuntungan.
1. Iman. Ini Adalah firman Allah « إلاالذين أمنوا ».Iman menurut bahasa berarti iqrar (pengakuan). Yaitu mengikrarkan لااله الاالله dengan lisan dan meyakininya dalam hatinya. Jadi harus membenarkan dengan hati dan menyatakan dengan lisan, tidak cukup pembenaran saja. Orang yang tidak dapat mengungkapkannya dengan lisan, boleh dengan isyarat, sebab, menurut kaidah bahasa dan syara' (agama), hal itu termasuk kalam (ucapan) –misalnya dalam riwayat "Tanyakanlah kepada anak kecil ini". Mereka berkata: "Bagaimana mungkin dia berbicara?" Jadi mereka memahami isyaratnya dan memahami apa yang ia maksudkan-.
Seandainya pembenaran (tashdiq) saja cukup, tentu Abu Thalib adalah mukmin, sebab hatinya membenarkan. Akan tetapi, hal itu tidak memasukkannya ke dalam kaum muslimin. Abu Thalib menyatakan: "Saya mengetahui bahwa agama Muhammad adalah sebaik-baik agama. Seandainya bukan karena takut cemoohan dan cacian, tentu aku telah menerimanya".
Sebelum meninggalnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya : "Hai, Paman! Ucapkanlah satu kalimat, yang dengannya aku akan membelamu di hadapan Allah". Ternyata Abu Jahal dan kawan-kawannya mencegah dan melarangnya dengan mengatakan: "Apakah engkau akan meninggalkan agama bapakmu?" Sehingga akhir ucapan Abu Thalib adalah "Dia tetap berada di atas agama Abdil Muththalib".
Secara syar'i, definisi iman menurut Ahlu Sunnah adalah iqrar dengan lisan, tashdiq dengan hati dan amal dengan anggota badan, bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat. Amal shalih adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman. Mereka, ahli sunnah tidak mengesampingkan amal dari lingkaran iman sebagaimana yang diyakini kaum Murji'ah. Dalam kacamata mereka, iman makhluk yang paling bertaqwa –misalnya Jibril- adalah sama dengan iman orang yang paling fasik. Asumsi mereka (ialah), "sebagaimana halnya ketaatan tidak berguna di hadapan kekufuran, maka begitu pula maksiat, tidak membahayakan keimanan".
Para sahabat, para tabi'in, para ahli hadits, imam madzhab empat dan ulama hingga hari Kiamat, mengatakan bahwa iman bertambah dan berkurang. Antara yang satu dengan lainnya, masing-masing berbeda tingkatan keimanannya, sesuai dengan tingkat perbedaan ketakwaan dan amal shalihnya. Allah berfirman:
"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". [Al-Fath : 4].
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, (artinya): "Tidak akan berzina orang yang berzina itu, ketika ia berzina dalam keadaan mukmin. Tidak akan mencuri orang yang mencuri, saat ia mencuri dalam keadaan mukmin".
Sedangkan rukun iman, menurut Rasulullah adalah enam, sebagaimana termuat dalam hadits Jibril dari Umar Radhiyallahu 'anhu yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Jadi untuk merealisasikan iman, harus memenuhi dua hal. Pertama : Yaitu lepas dari semua sesembahan dan menetapkan satu sesembahan yang benar, yakni Allah. Kedua : Yaitu mengikuti Rasul Shallallahu 'alaihi wa salalm secara lahir dan batin, dengan meyakini bahwa tidak ada Nabi lagi setelah Beliau yang diutus kepada seluruh umat manusia hingga hari Kiamat. Dan Al Qur'an tidak mungkin dipahami, kecuali melalui Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi bersabda, (artinya): "Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat sesudahku selama kalian berpegang teguh dengan keduany, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku". [HR Hakim].
Ingatlah, aku diberi Al Qur'an dan diberi semisalnya bersamanya. [HR Ahmad dan Abu Dawud].
Maka barangsiapa beriman, berarti dia telah keluar dari kerugian.
2. Amal Shalih.Amal shalih selalu disebut bergandengan dengan iman. Amal itu tidak disebut shalih, kecuali dengan dua syarat. Pertama, dilakukan dengan ikhlas karena wajah Allah. Kedua, sesuai dengan petunjuk Rasul Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dua hal inilah yang menjadi rukun diterimanya amal.
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya". [Al-Kahfi : 110].
Berdasarkan ini, amalan yang ikhlas tetapi menyalahi petunjuk Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, atau sesuai dengan petunjuk Rasul, namun dilakukan tanpa ikhlas, maka tertolak oleh Allah. Dua hal ini ibarat dua sayap burung, ia tidak bisa terbang kecuali dengan keduanya. Bila salah satunya terpotong, ia tidak bisa terbang. Ahli bid'ah banyak menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi tanpa dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka amalan-amalan mereka itu tertolak dan pada hari Kiamat nanti mereka akan diusir dari telaga Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi akan mengatakan: "Umatku, umatku". Maka dikatakan: "Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu".
3. Saling Berwasiat Dengan Kebenaran.Kita mengetahui, al haq adalah Islam dan syariat Islam, Al Qur'an dan Sunnah. Allah berfirman:
"Dan Kami turunkan (Al Qur'an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur'an itu telah turun dengan membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan". [Al-Isra': 105].
"Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap". [Al-Isra': 81].
Tidak cukup seseorang itu menjadi mukmin, 'abid (ahli ibadah) dan beramal shalih, tetapi ia harus berdakwah, menyampaikan, membimbing orang lain kepada kebaikan dan harus ikut andil mengemban risalah Islam.
Tawashi, adalah bentuk kata yang mengikuti wazan تَفَاعُلْ, yaitu shighah mubalaghah (bentuk kata untuk menambah intensitas tindakan). Artinya, saya berwasiat kepada Anda dengan benar dan Anda juga berwasiat kepada saya dengan benar. Guru berpesan kepada murid, murid kepada murid, orang tua kepada anak, pemimpin kepada rakyat, rakyat kepada rakyat, dan seterusnya. Ini adalah amanah di pundak umat. Anda akan ditanya tentangnya oleh Allah. Oleh karena itu, tidak cukup hanya dengan mengusung syi'ar-syi'ar Islam saja. Melainkan harus mengemban dakwah. Dengan berdakwah, berarti Anda telah melakukan amalan yang terbaik, yaitu amalan yang menjadi tugas para nabi. Allah berfirman (artinya) : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" [Fushshilat :33].
Jika Anda telah berdakwah, berarti telah menyerupai para nabi dan pemimpin para nabi. Manakala berdakwah, Anda harus mengikuti akhlak Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu dalam firman Allah (artinya) :" Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik". [An-Nahl : 125].
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu". [Ali-Imran : 159].
Kebenaran ini sudah terasa berat, maka janganlah Anda memperberat lagi dengan sikap keras dan kasar. Dakwah itu harus dengan penampilan dan tutur kata yang bagus. Ketika diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir'aun; manusia sombong yang mengatakan "Aku tidak mengetahui untuk kalian sesembahan selain aku", Nabi Musa dan Harun Alaihissallam diperintahkan Allah untuk bersikap lembut kepadanya. Allah berfirman:
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". [Thaha : 44].
Meskipun demikian, seorang dai pasti menghadapi cobaan dan tantangan, pasti dicemooh dan dilecehkan, dan terkadang diusir. Demikian ini sunnatullah untuk para nabi dan pengikutnya. Jika seseorang mengemban tugas nabi, pasti akan dimusuhi meskipun sangat lunak dan santun dalam dakwahnya.
4. Saling Berwasiat Sabar.Jalan dakwah tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga yang mewangi, dan tidak pula dihampari dengan sutra yang memikat hati. Dakwah adalah jalan terjal yang sulit. Karena itu, diperlukan adanya tekad dan kesabaran.
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik". [Al-Ahqaf : 35].
Martabat para nabi itu di atas kita. Meskipun demikian, di antara para nabi ada yang dibunuh, ada yang disalib, ada yang dibelah dengan gergaji. Nabi kita sendiri banyak mengalami siksaan dari orang-orang musyrik. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dilempari batu hingga berdarah-darah kaki dan kepalanya, dilempari dengan kotoran di punggungnya, dituduh sebagai tukang tenung atau dukun santet, tetapi Beliau senantiasa bersabar dan tawakal.
Setelah Beliau diusir dari Thaif, Jibril Alaihissallam datang kepada dengan ditemani malaikat penjaga gunung. Jibril mengatakan: "Sesungguhnya Allah mendengar dan melihat apa yang dilakukan kaummu terhadapmu. Dan Dia menyampaikan salam untukmu. Bersamaku, malaikat penjaga gunung. Jika engkau menghendaki, dia akan menjatuhkan Ahsyabain (dua gunung besar yang mengapit Mekkah) pada penduduk Mekkah".
Nabi menjawab,"Tidak! Aku akan tetap bersabar. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka orang yang akan menyembah Allah secara tauhid, tidak melakukan syirik sedikit pun," bahkan Nabi berdo'a: "Ya, Allah. Berilah kaumku petunjuk. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu". Sehingga banyak orang yang masuk Islam karena kesabaran Beliau, ampunan Beliau dan santun Beliau dalam berdakwah. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam betul-betul menjadi rahmat yang dihadirkan Allah untuk umat manusia sebagaimana bunyi hadits « اَناَ رَحْمَةً مُهْدَاة »aku adalah rahmat yang dihadiahkan (Allah).
Begitulah seharusnya para guru, da'i dan para muballigh. Mereka harus memberikan kasih-sayang, memilih cara yang terbaik dan bersabar atas gangguan yang diterimanya. Akhlak yang sejati bukanlah menahan diri untul membalas gangguan, tetapi menyabarkan diri ketika diganggu. Apabila Anda beriman, beramal shalih, berdakwah dan bersabar, maka Anda termasuk orang-orang yang beruntung, mendapatkan semua yang dicita-citakan, selamat dari segala yang Anda takutkan.
Ternyata mencari rezeki adalah salah satu bentuk ibadah. Setiap langkah yang kita ayunkan dalam mengais rezeki pada hakikatnya adalah bunga rampai dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.
Beberapa hadits yang berkaitan dengan mencari rezeki: ... Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajallah. (HR. Ahmad).
Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam hari dia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad).
Sesungguhnya di antara dosa-dosa yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah payahan dalam mencari nafkah. (HR. Athabrani).
Jadi, sepantasnyalah kita mencari dan berusaha untuk mencari rezeki bukan semata-mata mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya demi kesenangan dunia semata. Tetapi yang terpenting dari dalam mencari rezeki kita harus menanamkan kedalam diri kita bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada sang pemberi rezeki.
Rezeki ibarat air yang melimpah ruah. Hanya saja seringkali mengendap tak berjalan sebab pintu kran yang tersumbat. Kran tersebut hanya bisa dibuka dengan kunci ’sakti’ yang memang diperuntukkan untuknya.
Adapun delapan kunci rezeki pembuka kran tersebut adalah: 1. Bertaubatlah dan perbanyak istighfar.
Adakalanya pintu rezeki terhalang lantaran kita pernah menorehkan noda hitam dalam lembaran hidup kita. Mungkin misalnya, tindak tanduk kita yang kita lakoni mendzalimi sesama. Atau bahkan kita pernah lalai lantas melewatkan kewajiban sebagai seorang abdi Allah swt. Oleh karena itu biasakanlah beristighfar. Segera kembali kejalan-Nya. Ketahuilah bahwasanya taubat dan istighfar adalah kunci rezeki.
2. Bersilaturahmi.
Pintu rezeki biasanya terbuka lewat silaturhami dengan sahabat-sahabat. Kalaupun rezeki tidak datang seketika itu juga barangkali setidaknya relasi mulai terjalin. Bisa jadi dengan seizin-Nya, rezeki itu datang karena komunikasi dengan relasi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung tali silaturahmi”. (HR. Bukhari).
3. Selalu berusaha.
Meskipun Allah telah menetapkan dan membagi rezeki hamba-Nya. Tetapi Dia juga menyerukan untuk mencarinya. Bukan cuma berdiam dan menggantungkan diri dan doa.
4. Gemar berinfak
Berbagilah meski hanya sedikit. Allah swt menjanjikan akan memudahkan jalan rezeki bagi mereka yang gemar bersedekah dan berinfak.
Tidak ada istilah jatuh melarat lantaran sering bersedekah. Justru malah sebaliknya, Allah swt akan melipatgandakan dan mengganti dengan yang serupa atau bahkan jauh lebih baik. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan. Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba : 34).
5. Santuni Kaum Dhuafa
Menyantuni kaum dhuafa bisa membuka pintu rezeki kita yang terhalang. Salah satu sebab ialah doa kaum dhuafa sangatlah manjur. Tindakan baik yang kita tujukan kepada mereka akan berbalas doa yang terijabahi.
Diriwayatkan dari Abu Darda’ ra. Ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Carilah aku melalui orang-orang lemah kalian, karena sesunguhnya kalian akan diberi rezeki dan ditolong sebab (berkat) orang-orang dhuafa.” (HR. Turmudzi, Nasai dan Abu Daud).
6. Merantau bila perlu.
Pergilah ke negeri orang. Barangkali pintu rezeki yang tertutup di daerah sendiri akan terbuka di tempat yang lain. Disamping itu pula merantau bentuk dari usaha kita dalam mencari rezeki. Oleh karena itulah jangan terburu-buru berputus asa dan berkecil hati jika rezeki belum ketemu jodohnya.
Gagal di langkah pertama, masih banyak langkah-langkah lain yang masih tersisa. Bumi Allah sangatlah luas demikianlah juga dengan rezeki-Nya.
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa : 100).
7. Tawakkal dan berdoa.
Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha. Persoalan hasil adalah urusan Allah swt. Doa pun menjadikan rezeki yang kita dapat syarat dengan berkah. Sebab segala jerih payah yang telah kita upayakan tak terlepas dari petunjuk dan bimbingan Allah swt. Doa memberikan semangat dan keyakinan lebih bahwasahnya hanya Allah swt sang pemberi rezeki. Sebesar tawakkal dan kepasrahan kita dalam berdoa maka sebesar itu pulalah rezeki yang bakal kita peroleh. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).
8. Senantiasa bersyukur.
Hanya dengan bersyukur, Allah swt akan membuka pintu rezeki kita. Berapa pun rezeki yang kita dapatkan, poleslah selalu dengan berkah syukur.Orang yang pandai bersyukur akan selalu merasa puas dengan berapa pun hasil yang di dapat. Begitu juga tidak mudah berkeluh kesah tatkala rezeki kurang bersahabat. Oleh karena itu, senantiasalah bersyukur. Niscaya Allah SWT akan mempermudah jalan rezeki dan menganak pinakkannya.
Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka
lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya.
Di bawah ini kiat-Kiat menghindarinya gagalnya Ramadhan:
1. Kurang melakukan persiapan di bulan Syaban.
Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Syaban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata,
"Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Syaban."
2. Gampang mengulur shalat fardhu.
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih." (Maryam: 59)
Menurut Said bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.
3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.
Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami." (Al-Anbiya:90)
"Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya." (Hadits Qudsi)
4. Kikir dan rakus pada harta benda.
Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.
Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa taala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).
5. Malas membaca Al-Quran.
Ramadhan juga disebut Syahrul Quran, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Quran.
"Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Quran." (HR Baihaqi)
Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Quran sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.
6. Mudah mengumbar amarah.
Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: "Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah."
Dalam hadits lain beliau bersabda: "Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau
mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.
"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: "Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia."(Al Muhalla VI: 178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: "Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan."
8. Memutuskan tali silaturrahim.
Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya" Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.
Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.
9. Menyia-nyiakan waktu.
Al-Quran mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.
Allah bertanya: " Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?"
Mereka menjawab: "Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung."
Allah berfirman: "Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. "Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang mulia."(Al-Muâ?Tminun: 112-116)
Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.
10. Labil dalam menjalani hidup.
Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:
"Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya." (HR Ahmad, Nasai, Baihaqi dari Abu Hurairah)
Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.
11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.
Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan amar maruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.
12. Khianat terhadap amanah.
Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.
Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.
13. Rendah motivasi hidup berjamaah.
Frekuensi shalat berjamaah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjamaah, yang saling menguatkan.
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4) Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjamaâ?Tah.
14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.
Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.
15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.
Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.
16. Tidak mencintai kaum dhuafa.
Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.
17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.
"Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(Al-Hasyr: 18)
18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.
Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.
Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.
19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.
Secara harfiah makna Idul Fitri berarti ari kembali ke fitrah. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari penjara Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi
hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.
Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.
-------------------
Sumber: Majalah Hidayatullah,
Nabi Muhammad SAW Menganjurkan Ummat Islam Memanah
Senin, 09 Agustus 2010
Nabi Muhammad SAW Menganjurkan Ummat Islam Memanah
Setiap hari Uqbah bin Amir Al Juhani keluar dan berlatih memanah, kemudian ia meminta Abdullah bin Zaid agar mengikutinya namun sepertinya ia nyaris bosan. Maka Uqbah berkata, "Maukah kamu aku kabarkan sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" Ia menjawab, "Mau." Uqbah berkata, "Saya telah mendengar beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah 'azza wajalla akan memasukkan tiga orang ke dalam surga lantaran satu anak panah; orang yang saat membuatnya mengharapkan kebaikan, orang yang menyiapkannya di jalan Allah serta orang yang memanahkannya di jalan Allah." Beliau bersabda: "Berlatihlah memanah dan berkuda. Dan jika kalian memilih memanah maka hal itu lebih baik daripada berkuda." (AHMAD - 16699)
Hadits di atas menggambarkan betapa Rasulullah saw sangat menganjurkan agar seorang muslim peduli dengan persiapan untuk berjihad di jalan Allah. Memanah dan berkuda merupakan dua kegiatan yang terkait dengan hal itu. Dan seorang muslim perlu memiliki semangat untuk berjihad di jalan Allah. Mengapa? Karena Nabi saw memperingatkan bahwa raibnya semangat berjihad mengindikasikan hadirnya kemunafikan dalam diri.
“Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” (Abu Dawud 2141)
Seorang muslim diharapkan memiliki kecintaan kepada agamanya sehingga ia rela mengorbankan jiwanya demi kemuliaan Islam jika tuntutannya demikian. Dan berjihad di jalan Allah merupakan bukti tertinggi komitmen seorang muslim. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan muslim yang bersedia mengorbankan jiwa dan hartanya demi menegakkan agama Allah adalah seperti orang yang terlibat dalam perniagaan terbaik dengan Allah SWT.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (QS Ash-Shoff 10-13)
Tradisi jihad sebagai sebuah perniagaan atau jual-beli antara orang beriman dengan Allah SWT bukan merupakan tradisi yang baru diperkenalkan oleh Nabi Akhir Zaman, yaitu Nabi Muhammad saw. Namun tradisi ini sudah Allah tetapkan semenjak diwahyukannya Kitab Taurat kepada Nabi Musa as dan Kitab Injil kepada Nabi Isa as.
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. (QS At-Taubah 111)
Allah SWT menawarkan kepada orang beriman agar menjual diri dan harta mereka kepada Allah SWT dengan bayarannya berupa surga untuk mereka. Wujud jual-belinya ialah berupa kesediaan seorang mukmin untuk berperang di jalan Allah, lalu ia membunuh atau terbunuh di medan perang. Perkara ini sudah Allah janjikan semenjak turunnya Kitab Taurat dan Injil kemudian Al-Qur’an. Ironisnya dewasa ini, masyarakat yahudi-nasrani yang mendominasi dunia diizinkan dan dimudahkan untuk membangun kekuatan militer mereka. Bahkan mereka dapat dengan seenaknya mengerahkan armada perangnya ke negeri mana saja yang mereka sukai. Termasuk ke negeri-negeri kaum muslimin sebagaimana yang kita saksikan di Palestina, Irak dan Afghanistan. Kehadiran pasukan mereka di bumi Islam tidak dipandang sebagai sebuah tindak kriminal atau pelanggaran hukum internasional. Sementara bila kaum muslimin berusaha mempersenjatai diri, maka mereka segera dilabel sebagai kelompok teroris.
Maka sudah tiba masanya bagi ummat Islam untuk memperhatikan kewajiban syariat yang satu ini. Tidak pantas bila ummat Islam menghindar untuk mempersiapkan diri membangun armada perang sedangkan Barat kafir yang diwakili oleh kekuatan militer yahudi-nasrani dibiarkan bebas menyusun bahkan memobilisasi kekuatan militer mereka sesuka hati. Oleh karenanya, sudah sewajarnya bila kaum muslimin berusaha sekuat tenaga untuk mempersiapakn berbagai kekuatan –termasuk armada perang- dalam rangka memenuhi perintah mulia Allah SWT.
لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal 60)
Untuk itu marilah kita memulai upaya persiapan tersebut dengan melakukan apa yang jelas-jelas telah dianjurkan oleh Rasulullah saw. Di antaranya ialah memanah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!” (ABUDAUD - 2153)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada hiburan kecuali dalam tiga hal; seorang laki-laki yang melatih kudanya, candaan seseorang terhadap isterinya, dan lemparan anak panahnya. Dan barangsiapa yang tidak memanah setelah ia mengetahui ilmunya karena tidak menyenanginya, maka sesungguhnya hal itu adalah kenikmatan yang ia kufuri." (NASAI - 3522)
Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan bahwa makanan sempurna untuk bayi adalah air susu ibu, dan bahwa memberi makan tidak akan lengkap tanpa ibu menyusui bayinya selama dua tahun. Itulah yang dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia di awal abad 20. Sesuatu yang telah dikatakan Al-Qur’an empat belas abad yang lalu.
Para dokter berpikir menyusui bayi hanya hanya memberi dampak psikologis hubungan dengan ibunya dan tidak ada manfaat lebih jauh. Tetapi setelah melakukan riset selama setengah abad, manfaat besar lainnya untuk menyusui mulai muncul, bahkan dewasa ini para ilmuwan menemukan manfaat baru dari susu ibu. Kekebalan tubuh yang disebut imunoglobulin ditemukan pada susu ibu pada awalnya. Ia memberikan kekebalan tubuh terhadap berbagai bakteri dan virus. Bahkan para ilmuwan menemukan bahwa jumlah bakteri dalam usus bayi yang diberi susu sapi adalah sepuluh kali lipat lebih banyak daripada yang ada dalam usus bayi yang diberi susu ibu.
Keuntungan Bagi Anak:
Kekebalan tubuh "imunoglobulin" membantu bayi selama tiga bulan pertama untuk melindungi tubuh dari serangan kuman terus-menerus, bahkan membantunya untuk membentuk dan memperkuat sistem kekebalan sendiri. Apalagi beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem kekebalan bayi tumbuh lebih cepat ketika ia diberi susu ibu. Susu ibu juga mengandung unsur kekebalan yang disebut "mucins" yang mengandung banyak protein dan karbohidrat. Zat ini mengikuti bakteri dan virus dan sepenuhnya menghilangkan mereka dari tubuh tanpa efek samping, berbeda dengan obat-obatan kimia.
Susu ibu juga memberikan stabilitas psikologis bayi, membantu tidur dan tenang, ia bekerja sebagai analgesik alamiah terbaik bagi bayi. ASI melindungi bayi dari alergi. Bahaya gizi pada susu sapi, misalnya, hal itu meningkatkan kemungkinan serangan kanker delapan kali lipat.
Keuntungan Bagi Ibu
Banyak studi yang dilakukan di tiga puluh negara menunjukkan ibu yang menyusui bayinya kurang terkena kanker payudara.
Rahim melebar dua puluh kali selama kehamilan dan melahirkan. Penelitian menunjukkan menyusui bermanfaat untuk membantu rahim kembali ke ukuran normal. Sebaliknya ibu yang tidak menyusui bayinya ukuran rahimnya tetap lebih dari batas normal. Selain itu, menyusui juga melindungi dari kanker rahim.
Penyusuan alami membantu ibu untuk mengurangi berat badannya dan melindungi dirinya dari kegemukan. Bahkan ia juga bekerja sebagai analgesik alami rasa sakit bagi ibu juga. Penyusuan alami juga membantu ibu dan anak untuk tidur nyenyak.
Manfaat Bagi Masyarakat
Penyusuan alami tidak mahal sebaliknya buatan menyusu. Kita mungkin terkejut ketika kita tahu bahwa American Academy for Pediatric menekankan jika Amerika Serikat mengikuti cara menyusu alami itu akan menghemat 3600 juta dolar per tahun.
Penyusuan alami juga berdampak positif pada lingkungan, karena polusi terjadi akibat proses manufaktur, pengeringan susu botol susu sapi, dan sampah yang dihasilkan dari penggunaan susu dan botol.
Periode Ideal Untuk Menyusui
Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi UNISAF melakukan banyak penelitian pada bayi, dan mendapat hasil dari penelitian ini bahwa periode yang ideal adalah dua tahun. Karena selama dua tahun pertama bayi memiliki kebutuhan mendesak terhadap susu steril seperti susu ibu, sebagai sistem kekebalan agar ia dapat menghadapi setiap kemungkinan penyakit sebelum dua tahun usianya.
Organisasi Kesehatan Dunia menyelenggarakan konferensi berjudul "Makanan Pendamping ASI" pada tahun 2001 dengan kesimpulan sebagai berikut:
Dua tahun pertama dari kehidupan bayi adalah jendela kritis di mana fondasi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dibangun. Menyusui bayi merupakan inti perawatan dalam periode ini.
Selain itu, dalam kesimpulan dari konferensi, periode ideal untuk menyusui adalah dua tahun, karena ada kebutuhan mendesak bagi bayi terhadap kekebalan tubuh untuk mengembangkan sistem kekebalan selama periode ini. ia tidak dapat menemukannya selain dalam susu ibu.
Dokter menekankan bahwa semua jenis makanan tidak bisa cukup bagi bayi selama dua tahun pertama usia bayi, karena bayi menghalami banyak faktor yang mengakibatkan banyak penyakit. Sehingga dua tahun pertama merupakan masa kritis dan sensitif untuk bayi di mana kita harus bergantung pada susu ibu untuk menghindari bahaya ini.
Man is not the creature of circumstances; circumstances are the creatures of men.” –Benjamin Disraeli–
Menurut sebuah pepatah Arab, kita tak akan pernah bisa memberikan apa yang kita tidak punya. Untuk berinfak kita harus beruang. Untuk mengajar kita harus berilmu. Untuk melindungi kita harus kuat. Lalu, untuk memimpin apa yang mesti kita punya? Citra diri sebagai manusia merdeka!
Sebelum mampu memimpin orang lain, kemampuan memimpin diri sendiri adalah keniscayaan. Ada yang menyebut kompetensi ini sebagai self-leadership, self-mastery atau personal mastery. Intinya adalah kemampuan untuk menjadi tuan atas diri sendiri, berangkat dari keyakinan, conviction, bahwa bukanlah lingkungan yang menciptakan kita, melainkan kitalah yang menciptakan lingkungan, bahwa diri kita adalah subjek sedangkan lingkungan adalah objek, dan bukan sebaliknya. Sebuah kesadaran atas kemerdekaan hakiki, a free will, yang telah Allah karuniakan, yang membedakan kita dari beragam makhlukNya yang lain, sebagaimana firmanNya: “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy Syams: 8-10).
Citra diri sebagai manusia merdeka membuat kita menjadi manusia dengan internal locus of control, manusia yang meyakini bahwa dirinya adalah penyebab, sekaligus faktor yang bertanggungjawab, atas hasil yang diterimanya. Internal locus of control merupakan refleksi dari self-responsibility, kemampuan bertanggungjawab atas nasib diri sendiri, yang merupakan cikal-bakal tanggungjawab atas nasib orang banyak. Internal locus of control juga merupakan karakteristik utama dari pribadi yang matang dan dewasa secara emosional dan spiritual.
Citra diri sebagai manusia merdeka merupakan prasyarat menjadi manusia pembelajar, pemimpin pembelajar, satu-satunya spesies pemimpin yang mampu mentransformasikan dirinya menjadi pemimpin jenjang kelima. Dalam konteks ini, citra diri sebagai manusia merdeka menyediakan fondasi yang kokoh bagi terbangunnya mental pembelajaran (learning mental). Meminjam model dari Taufik Bahaudin (2001), proses membangun mental pembelajaran dimulai dengan memiliki self-awareness, kesadaran rasional mengenai diri sendiri, pemahaman mengenai kekuatan (strengths), keterbatasan (non-strengths), dan kelemahan (weaknesses), di samping kemampuan membaca posisi diri dalam konteks berbagai faktor dan aktor eksternal. Allah SWT melengkapi kita dengan perangkat-perangkat yang membuat self-awareness menjadi keniscayaan: panca indera yang mmemungkinkan kita menangkap stimulus, dan otak rasional (neo-cortex) yang memberi kita kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi objek yang terekam oleh indera kita. Contoh sederhana, Budi, seorang mahasiswa, melihat pengumuman nilai ujian tengah semester (UTS) salah satu mata kuliah yang diikutinya. Dalam daftar tertera nilai yang diraihnya 50, sementara nilai rata-rata kelas 70. Tanpa banyak mengalami kesulitan otak rasionalnya akan sampai pada kesimpulan, ”Nilai saya cukup jauh di bawah rata-rata kelas.”
Lalu, apakah Budi akan terdorong belajar lebih keras untuk mencapai nilai akhir yang lebih baik? Belum tentu. Tahu ada yang salah atau kurang tak serta-merta sama dan sebangun dengan dorongan (drive) untuk memperbaikinya. Ada-tidaknya dorongan tersebut ditentukan oleh mampu-tidaknya Budi membangun self-acceptance. Berbeda dengan membangun self-awareness yang merupakan proses rasional dan merupakan kerja dari kecerdasan intelektual (intellectual intelligence, IQ), membangun self-acceptance merupakan proses emosional, dan bahkan spiritual, melibatkan bukan hanya otak rasional, melainkan kolaborasi harmonis antara otak rasional dengan otak emosional (limbic system), dan merupakan kerja dari kecerdasan spiritual (spiritual intelligence, SQ).
Ditinjau dari sisi yang lebih mendalam, menggunakan konsepsi spiral dynamics (Beck & Cowan, 2004), ada-tidaknya dorongan internal untuk memperbaiki dan meningkatkan diri sangat ditentukan oleh the color or thinking, atau jenjang ’DNA’ Psiko-Sosial Budi, yang menjawab pertanyaan apakah proses kimiawi di otaknya sudah mampu memunculkan nilai kejujuran, mendorong dirinya untuk bertanya ”what’s wrong with me?” atau justru menjebaknya dalam pertanyaan ”what’s wrong with others?” Tiadanya self-acceptance terefleksikan dalam bentuk keyakinan ”kesalahan bukan pada pesawat televisi saya”, atau blaming others mentality. Dampaknya? Luar biasa fatal! Seperti saklar switch-off yang membuat otak dan pikiran kita tidak bekerja untuk mencari cara meningkatkan diri. Kalau Anda yakin gangguan pada gambar yang ditampilkan pesawat TV anda pada saat menyaksikan sebuah acara kesayangan disebabkan oleh masalah pada stasiun pemancar TV yang bersangkutan, akankah anda pergi ke tempat reparasi untuk memperbaiki pesawat TV anda? Tentu tidak! Anda akan berpangku tangan di rumah, sambil berdoa semoga kinerja stasiun pemancar segera membaik.
Menarik untuk dicatat bahwa kemampuan membangun self-acceptance sama sekali tidak berbanding lurus dengan atribut-atribut seperti usia, tingkat pendidikan, maupun tinggi-rendahnya pangkat dan jabatan. ”Peternakan kambing hitam” ternyata sadar maupun tidak bisa dikembangkan oleh siapa saja. Kebiasaan ”beternak kambing hitam” ini merupakan deklarasi seseorang, walaupun mungkin implisit sifatnya, bahwa dirinya enggan berubah. Dalam keseharian deklarasi itu muncul dalam ungkapan yang jelas polanya: ”bukannya saya tidak mau berubah, habis lingkungan sih ...,” atau ”bagaimana mungkin saya bisa berubah dalam kondisi yang tidak mendukung seperti ini,” atau ”saya sebenarnya ingin berubah, tapi ... soalnya ...,” dan beragam kalimat lain yang sejatinya sama dan sebangun. Terhadap orang seperti itu, jangankan orang lain, bahkan Allah-pun enggan membantunya untuk berubah (QS. Ar Ra’d: 11).
Seorang menteri bidang ekonomi dalam kabinet yang berkuasa di awal krisis moneter tahun 1997, seorang profesor doktor, didatangi wartawan yang menanyakan nasib perekonomian Indonesia setelah Korea Selatan yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi Asia luluh lantak dihantam badai krisis. Ia menafikkan kenyataan Indonesia juga tertular krisis dengan mengemukakan segudang data historis tentang prestasi ekonomi kita di masa lampau, antara lain pertumbuhan dan cadangan devisa yang tinggi serta inflasi yang rendah. Ketika itu wartawan hanya bisa mengangguk-angguk dan memuat pernyataan itu sebagai headline surat kabar mereka keesokan harinya. Dan seiring dengan terus hancurnya rupiah dan perkasanya dolar Amerika, Pemerintah mengeluarkan jurus kelit ”batas psikologis” yang tak jelas dasar konseptualnya. Lucunya lagi, batas psikologis tersebut ikut naik, seiring tak terbendungnya kenaikan nilai dolar, Rp 5.000, Rp 7.500, dan terakhir Rp 10.000. Bantahan yang kurang-lebih sama ia kemukakan ketika gerombolan wartawan yang sama kembali mendatanginya pada saat ”tetangga sebelah rumah”, Thailand, juga pingsan terinveksi virus krisis. Artinya, jangankan self-acceptance, bahkan self-awareness-pun tak muncul dalam menyikapi krisis tersebut. Baru setelah dolar menembus batas ”ajaib” Rp 15.000 keluar pernyataan, ”kita memang terkena krisis.” Namun sayangnya, self-acceptance tak jua muncul, karena pernyataan yang muncul adalah, ”ini gara-gara kekuatan asing yang mengobok-obok perekonomian kita,” atau, ”ini gara-gara ulah George Soros.” Bahwa IMF, kekuatan asing, dan Yahudi menjadikan kita sebagai sasaran tembak dari economic hit team mereka memang merupakan realita. Tapi, kita hanya akan jadi korban jika kita – sadar maupun tidak – memang menyediakan diri untuk dikorbankan.
Kembali, kejujuran merupakan kata kunci. Mustahil membangun mental pembelajaran, mustahil membentuk pemimpin pembelajar, dan karenanya mustahil pula membangun pemimpin jenjang kelima, tanpa menghujamkan nilai kejujuran dalam sanubari terdalam. Dalam konteks inilah antara lain, mengapa nilai kejujuran merupakan salah satu nilai operasional (operating value) yang menjadi pilar nilai integritas, yang merupakan satu dari lima nilai-nilai dasar (primary values) PPSDMS Nurul Fikri. Bahkan jika dikaji lebih dalam lagi, keniscayaan membangun pemimpin pembelajar ini tersirat dalam makna nilai integritas yang dirumuskan oleh PPSDMS Nurul Fikri, yaitu: ”Memiliki kepribadian yang matang dan dewasa, dilandasi oleh kemampuan untuk menyelaraskan pikiran, perkataan dan perbuatan, berkata dan bertindak jujur, serta memikul tanggungjawab, sehingga mampu menjadi agen-agen perubahan yang layak dipercaya.” Dimilikinya mental pembelajaran, yang membuat diri kita memiliki internal locus of control, merupakan karakteristik dari kepribadian yang matang dan dewasa.
Eksistensi mental pembelajaran yang mantap dan telah menjadi neural path-way (“software” atau ”pilot otomatis” di otak kita) yang muncul dalam bentuk respon spontan ”what’s wrong with me?” diidentifikasi oleh Collins sebagai salah satu pilar penting dari fenomena pemimpin jenjang kelima: “looks in the mirror, not out the window, to apportion responsibility for poor results, never blaming other people, external factors, or bad luck,” dan sebaliknya, “looks out the window, not in the mirror, to apportions credit for the success of the company – to other people, external factors, and good luck.” Jelas bahwa mental pembelajaran merupakan fondasi dari terbangunnya karakter dasar yang seolah-olah paradoksal dari pemimpin jenjang kelima: professional will dan personal humility. Dampaknya? Dahsyat! Kaizen. Continuous improvement.
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." ~Al Qur–an, Surat At Taubah (9): 105~
Operasionalisasi dari mental pembelajaran adalah perilaku pembelajaran (learning behavior), yang juga harus embedded dalam diri seseorang untuk menjadi pemimpin jenjang kelima. Kita berangkat dari keyakinan dasar potensi untuk menjadi pemimpin jenjang kelima itu sudah dititipkan Allah dalam diri setiap kita. Perilaku pembelajaran, dengan dasar mental pembelajaran, akan membuat setiap peristiwa yang kita alami menjadi trigger, stimulan, bagi proses aktualisasi potensi tersebut. Ada dasar keyakinan di balik itu: nothing happens by chance. Di balik setiap peristiwa yang kita alami pasti ada pesan dari Allah untuk kita jadikan pelajaran.
Suatu hari Nabi SAW keluar dari rumahnya untuk bepergian. Namun belum jauh melangkah kaki beliau tersandung batu hingga putuslah tali terompahnya. Kejadian yang begitu sederhana itu membuat beliau tertegun dan merenung di tepi jalan, ”Kesalahan apa yang telah kuperbuat sehingga Allah memperingatkanku dengan putusnya tali terompahku ini?” Subhanallah! Sebuah demonstrasi luar biasa dari kualitas pemimpin jenjang kelima, pemimpin pembelajar. Jika ditarik agak jauh sedikit, apakah perilaku para pimpinan bangsa ini dalam merespon berbagai musibah yang tak kecil: tsunami Aceh dan Nias, lumpur Sidoarjo, gempa Yogyakarta-Jawa Tengah, kerusuhan Poso, banjir yang melanda berbagai wilayah negeri, kecelakaan transportasi yang tak kunjung surut, dan sejumlah besar bencana lainnya, telah menunjukkan kualitas mereka sebagai pemimpin pembelajar? Wallahu ’alam. Yang jelas, every society gets leader it deserves, pemimpin pembelajar hanyalah milik bangsa pembelajar.
Perilaku pembelajaran merupakan siklus yang diawali dari observe, perilaku menyimak (listening) dan mengakumulasikan segenap fakta dan data, tanpa prasangka. Demikian berbahayanya prasangka, hingga Allah memperingatkan: ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa ...” (QS. Al Hujuraat: 12). Observe adalah perilaku mendengar dengan fokus pada sumber informasi, melibatkan seluruh indera, sehingga mampu menangkap bahasa nonverbal dan meta-messages, to read between the lines, tanpa ketergesaan untuk memilah, menganalisis, atau menyimpulkan. Jadi, pemimpin pembelajar mestilah seorang great listener, yang memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan, bukan pada siapa yang mengatakan, dan bagaimana pesan tersebut dikatakan.
Tahap selanjutnya adalah assess, mengkaji, menganalisis. Jika observe menjawab pertanyaan ”what?” maka assess menjawab pertanyaan “why?’ . Sampai di tahap ini kian jelas mengapa membangun mental pembelajaran harus mendahului perilaku pembelajaran. Tanpa dasar mental pembelajaran yang kokoh, pertanyaan “why?” hanya akan menjadi pemicu munculnya serentetan “kambing hitam”. Namun sebaliknya, mental pembelajaran akan membuat kita look in the mirror, mencari tahu dan kemudian menemukan area of improvements dalam diri kita sendiri.
Dalam praktek, tinggi-rendahnya kualitas assessment tergantung pada kelengkapan, keragaman, dan ketajaman ”pisau analisis” yang digunakan. Konon kisahnya ada seorang kepala suku dari sebuah suku yang agak terbelakang di kawasan Malaysia Timur di masa penjajahan Inggris diundang bertandang ke Singapura oleh pemerintah kolonial untuk melakukan studi banding. Selama kunjungan banyak sekali yang ia lihat: pelabuhan, gedung-gedung pemerintahan, jalan raya, pasar, dan pusat-pusat keramaian lainnya. Saat pulang kampung dikumpulkannya seluruh anggota sukunya dan dia berkata, “Sekarang kutahu mengapa Singapura lebih maju dari kita. Ternyata rahasianya hanya karena mereka menggunakan gerobak untuk mengangkut bertandan-tandan pisang sekaligus!”
Mengapa kesimpulannya begitu sederhana? Usut punya usut ternyata makanan pokok suku tersebut adalah pisang yang biasa dibiarkan tumbuh liar di tepi hutan. Setiap ada tandan pisang yang matang, mereka angkut pulang dengan cara memanggulnya, sehingga hanya sedikit sekali tandan pisang yang bisa mereka bawa. Nah, dalam kunjungannya ke Singapura, sang Kepala Suku secara tak sengaja melihat bagaimana orang menurunkan pisang dari truk besar dan membawanya ke dalam pasar dengan kotak beroda yang belakangan diketahuinya bernama gerobak. Semua pemandangan lain yang dia lihat di Singapura menjadi tak berarti dan tak menempel dalam pikirannya karena tak ada “pengait” seperti pisang yang terhubung dengan gerobak. Pesan dari cerita ini tentulah sangat jelas. Semakin sedikit “pisang” yang kita ketahui, semakin sedikit pula fakta dan data yang bermakna buat kita.
Kaidahnya mengatakan, we see what we are supposed to see. We see poorly, or not at all, data does not fit into our current paradigm. We don’t know what we don’t know. Karenanya, jangan pernah berhenti mencari “pisang-pisang baru”, sehingga analisis kita semakin berkualitas. Dalam konteks ini dapat dipahami kredo yang mengatakan: “This is the era for the leaders who read.” Membaca adalah salah satu cara jitu untuk memastikan bahwa kita tidak terpaku pada “pisang” yang lama.
Langkah ketiga adalah design, merancang alternatif respon paling optimal. Di samping kualitas analisis data dan fakta yang dilakukan di tahap sebelumnya, kualitas design juga sangat ditentukan oleh kemampuan berpikir out-of-the box. Ingatlah selalu ungkapan yang mengatakan, “hanya orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda dari cara yang sama”. Prinsipnya, kita harus konsisten dengan visi dan tujuan, namun jangan pernah konsisten dengan cara. Ada banyak jalan menuju Mekah! Namun, kualitas design juga tak bisa dilepaskan dari kemampuan berpikir serba-sistem (systems thinking), yang membuat kita berpikir holistik dan integral, mempertimbangkan hubungan saling keterkaitan antar setiap faktor. Ketika berencana mengubah suatu faktor secara otomatis kita berpikir kemungkinan dampaknya, baik terhadap faktor-faktor lain, maupun terhadap sistem secara keseluruhan, dan bahkan terhadap visi yang ingin diwujudkan atau tujuan yang hendak dicapai. Jadi, pemimpin pembelajar adalah juga mereka yang open minded dan berpikir serba-sistem.
Ada cerita lainnya. Kali ini tentang sepuluh ekor burung yang sedang hinggap di atas pagar. Mereka bercakap-cakap, bersenda-gurau. Sayangnya kita tak tahu apa yang mereka perbincangkan, karena yang paham hanyalah mereka sendiri, Nabi Sulaiman AS, dan Allah SWT. Tiba-tiba kesepuluh burung itu melihat seekor cacing yang gemuk dan montok keluar dari dalam tanah. Terbitlah rasa lapar mereka. Karena itu mereka memutuskan untuk memangsa cacing itu. Pertanyaannya: ada berapa burung yang tersisa bertengger di atas pagar? Kalau jawaban anda kurang dari sepuluh, jawaban itu salah. Ya! Jawabannya adalah sepuluh! Mengapa? Karena burung-burung itu baru memutuskan.
Coba ingat-ingat lagi, betapa seringnya dalam hidup kita tak henti-hentinya menimbang, mengingat, memutuskan, lalu kembali menimbang, mengingat, dan memutuskan, dan kembali lagi menimbang, mengingat, memutuskan, tanpa pernah melaksanakan. Adakah yang berubah? Tidak! Banyak orang pintar yakin bahwa rencana keputusan untuk memindahkan bukit akan membuat bukit itu bergeser. Mereka lupa bahwa traktorlah yang memindahkan bukit. Implementasi, action, adalah tahap terakhir yang menentukan hasil dari suatu siklus perilaku pembelajaran. Action, action, action! Gagal? Siapa takut?! Ingatlah, success truly is the result of good judgment. Good judgment is the result of experience, and experience is often the result of bad judgment. Thomas Alfa Edison mengatakan, “I am not discouraged, because every wrong attempt discarded is another step forward.” Jadi, just do it!
Dalam kesendirian, apakah Anda menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri?
Apabila ada di antara orang mengatakan,”Saya tidak membutuhkan siapa pun. Saya bisa melakukan semua hal dengan kekuatan dan uang saya sendiri”.
Kata-kata seperti ini memang nampak gagah di luarnya. Tapi sesungguhnya kropos di dalamnya. Sebuah ungkapan ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang hebat yang sia-sia. Orang hebat yang tidak butuh tangan-tangan orang lain untuk melakukan setiap hal dari ambisinya namun tak menunjukkan apapun selain kelemahannya sendiri.
Siapapun orang yang menjadi semakin “kuat”-dalam segala hal-semakin banyak ia bergantung pada orang lemah. Semakin menjadi “besar” orang itu, semakin banyak ia membutuhkan tangan-tangan kecil yang menopang kebesarannya. For example, sebelum si A menjadi pejabat, ia biasa melakukan hampir semua hal kecil dengan tangannya. Tetapi ketika jabatan dan kekayaan ada di genggamannya, ia banyak membutuhkan tangan jelata untuk sekedar mencuci kemeja, menyemir sepatu, menerima telpon, mengatur agenda, menjinjing tas, bahkan hanya untuk sekedar membuka pintu mobil dinasnya. Lalu apa yang ada di benaknya ketika dengan enteng dia menyatakan,”Saya tidak membutuhkan siapa pun. Saya bisa melakukan semua hal dengan kekuatan dan uang saya sendiri”?
Apa yang Anda katakan apabila Anda benar-benar bertemu dengan orang seperti ini dan mendengar ratapannya itu? Jangan lama-lama berpikir. Segera tinggalkan orang itu dan berucaplah terima kasih.
Jika Anda penasaran dan sakit hati, jangan tunjukkan. Sebab ia akan semakin menjadi-jadi. Tapi katakan padanya dengan lembut, ”Pak, Anda luar biasa. Hanya bapak satu-satunya di dunia ini orang yang dapat melakukan seperti apa yang bapak katakan. Saya menantikan keluarbiasaan bapak itu untuk yang kedua kali. Saat di mana bapak memandikan jenazah bapak sendiri, mengkafani jenazah bapak sendiri, menyalatkan jenazah bapak sendiri, mengusung keranda jenazah bapak sendiri dan menimbun jenazah bapak sendiri di pekuburan”.
Orang dengan ongkos hidup yang besar membutuhkan lebih banyak tangan-tangan kecil untuk memenuhi semua kebutuhannya.
Manusia tawadhu memahami hakikat ini sebagai kenyataan bahwa ia tidak bisa hidup sempurna tanpa orang lain. Bahwa ia lemah dan hanya menjadi kuat apabila bersanding harmonis dengan sesamanya. Bisa pasangan hidup, orang tua, anak-anak, teman, kolega, siswa, pelanggan, konsumen, pasien, atasan-bawahan dan semua komunitas dalam jaringan sosial di medan hidup.
Tipe No
”Pak, bisakah meminjamkan saya uang untuk sekedar ongkos pulang hari ini?”
”Aduh, tidak bisa. Ongkos saya pun hanya untuk tinggal hari ini dan besok”.
”Masih kosong ya. Bisa ikut sampe depan ngga?”
”Wah, saya buru-buru. Saya ambil jalan memutar. Lain kali saja”
”Bu, mo ke pasar kan. Saya nitip bumbu dapur ya?
“Gimana ya, saya dari pasar tidak langsung pulang. Ada keperluan dengan teman. Mungkin pulangnya sore”.
Orang dengan tipe ini selalu merespon permintaan orang lain dengan pesimistik. Serba tidak. Serba memberi jalan buntu. Dan serba mengkandaskan harapan. Seolah-olah hanya kegelapan yang berani diberikan oleh orang tipe ini. Satu-satunya sikap yang murah ia berikan pada orang lain hanya ”I don’t care”. Orang tipe ini lupa, bahwa ia tidak akan pernah memanen padi dengan hanya menanam rumput.
Orang tipe ini tidak merasa risih dengan segala keterbatasan orang lain. Ia adalah tipe orang yang ingin gembira sendiri saja. Kenyang sendiri saja. Nyenyak sendiri saja. Dan nyaman sendiri saja, kecuali hanya untuk orang-orang tertentu yang masuk pada ring komunitasnya.
Baginda Nabi pernah memberi ilustrasi yang cukup ”pahit” dalam konteks ini:,
”Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu”. (HR. Al Bazzaar)
Tipe OK
”Pak, bisakah meminjamkan saya uang untuk sekedar ongkos pulang hari ini?”
”Ok.”
”Masih kosong ya. Bisa ikut sampe depan ngga?”
”Bisa.”
”Bu, mo ke pasar kan. Saya nitip bumbu dapur ya?
”Boleh.”
Pada dasarnya ini tipe orang baik. Tetapi kebaikannya bersipat menunggu. Meskipun ia tahu ada orang yang tengah membutuhkan sesuatu dan ia bisa memenuhinya, ia hanya akan tetap menunggu sampai orang itu meminta kesediaannya membantu. Kebaikan orang tipe ini bersifat ekstrinsik yang baru muncul ke permukaan apabila ada dorongan kuat dari luar dirinya. Orang tipe ini sangat teguh memegang prinsip ” I will do what you ask” Orang tipe ini tidak tahu, bahwa menanam padi banyak untungnya.
Ahaa ... sebuah riwayat Imam Tirmidzi dari kanjeng Nabi mulia, Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam terasa relavan untuk illustrasi manusia tipe ini. Kata baginda. : ”Janganlah kalian menjadi orang bodoh yang mengatakan: “Jika manusia berbuat baik padaku maka akupun berbuat baik padanya. Jika mereka berbuat zalim maka kamipun akan zalim kepada mereka. Akan tetapi pandaikanlah diri kalian, di mana jika manusia berbuat baik maka berbuat baiklah pada mereka dan jika mereka berbuat zalim maka janganlah kamu berbuat zalim kepada mereka”. (HR. Tirmidzi).
Tipe Please, OK dan Yes.
”Pak, jika hari dan tanggal segini tidak ada ongkos, bilang saja. Jangan sungkan. Cadangan dana saya lebih dari cukup sampai gajian bulan depan.”
”Hei, mau ke depan ya? Ayo naik. Masih cukup untuk empat orang.”
”Mba, aku mo ke pasar. Mo nitip sesuatu?”
Full inisiatif, peka dan selalu tergerak untuk memberikan kebahagiaan pada orang lain. Orang tipe ini mampu mengubah rasa putus asa orang lain menjadi harapan. Mengubah muram orang lain menjadi ceria. Mengubah kelemahan orang lain menjadi kekuatan. Bagi orang tipe ini, kebahagiaan bukanlah miliknya sendiri. Orang lain juga berhak merasakan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang tengah ia rasakan.
Kebaikan orang tipe ini bersifat intrinsik yang tidak bergantung dengan sesuatu yang datang dari luar dirinya. Diminta atau tidak diminta, ia akan melakukan yang terbaik untuk orang lain. Dalam berbagai kesempatan ia tidak pernah lelah menyapa, “What can I do for you?” Orang tipe ini tahu persis bahwa dengan menanam padi, ia bukan hanya akan memanen gabah. Tapi ia juga akan memanen rumput yang tumbuh sendiri di sela-sela rimbun padinya.
Orang tipe ini sadar betul, bahwa apapun yang dilakukannya semua akan kembali padanya,: “Barang siapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (terjemah QS. Al-Jatsiyah [45]:15). Bagi orang tipe ini, tak akan ada ruginya memulai lebih dulu berbuat baik. Luar biasa.Tak ada ruginya pula mencoba mendisain kita menjadi orang tipe please, yes dan OK. Semoga kita bisa!
Islam itu sangat solutif, berbahagialah bila engkau seorang muslim, apalagi seorang muslim itu adalah enterpreuner (red. Pengusaha), kalaulah dia yakin akan jalannya, untuk berjihad di dunia melalui bisnis, tentulah dia memiliki dua ujung mata pedang dalam langkah perjuangannya, yaitu;
pertama : Ikhtiar yang sungguh sungguh dalam menjemput rezeki,
kedua : Kekuatan amalan ibadah dan doa.
Kedua mata pedang tersebut saling menguatkan, kedua mata pedang tersebut menambah kekuatan keyakinan hamba atas kekuasaan Yang Maha Kuasa. Logika bisnis dan usaha kadang-kala menjadi terbalik, bahkan hasil yang di raih pun seringkali ilmu matematika ataupun indikator ekonomi tak mampu menjangkau.
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 35:2)
“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang di kehendaki Nya di antara hamba-hambaNYA dan menyempitkan bagi (siapa yang di kehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi Rezeki yang sebaik baiknya” (QS 34:39)
Pada saat krisis tiba, niscaya mereka para pribadi muslim haruslah merasa yakin dan tetap tenang. Mereka tidak gundah atas berita yang beredar di media masa, mereka tidak turut serta menggaungkan senandung yang sama dengan kaum yang lain , mereka punya sikap yang unik dan berbeda dengan kaum yang lain, alasannya karena mereka punya keyakinan yaitu mereka memiliki ALLAH, PEMILIK SEGALA KEPUTUSAN, PEMBERI REZEKI.
Seringkali ummat islam terlupakan adanya kekuatan ujung mata pedang yang kedua ini yaitu kekuatan amalan ibadah dan doa , sebahagian ummat islam sekarang cenderung mengikuti pola manajemen barat yang serba ‘sebab akibat’ secara rasional, yang tentunya paham barat tersebut telah nyata melupakan faktor Tuhan sebagai Penentu. Walaupun sebagian mereka berhasil dalam usahanya, maka hasil kerja yang di dapat paling tidak hanya memperbanyak digit nilai materi saja, dan hampa dalam nilai keimanan serta berpeluang hilang keberkahannya, ketahuilah bila niat dan hasilnya dasarnya sudah menyimpang , hasil itu semua kelak akan nihil di hadapan Allah.
Rugi sekali bagi seorang muslim, apalagi kalangan pengusaha muslim khususnya, bila meninggalkan kekuatan yang satu ini, mereka punya ALLAH ,mereka punya peluang doanya terkabul, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik di banding orang kafir, kenapa kita harus tunduk kepada yang lainnya, bahkan melemahkan diri?
Banyak sekali hadist Nabi maupun kisah sahabatnya yang memberikan gambaran bagaimana seorang muslim berdoa, kesemuanya merupakan karuniaNYA agar ummat islam khususnya para pengusahanya agar memiliki pegangan dan panduan dalam melangkah di kehidupan dunia ini, menjadi pengelana yang tak akan tersesat di antara ujian kehidupan berupa kelapangan maupun kesempitan.
…………
Adalah Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat dekat Rasul SAW. Di masa Khalifah Usman bin Affan, dia menderita sakit dan terbaring di atas tempat tidurnya, Khalifah usman menjenguknya dan menyaksikan Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedih.
Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”
Abdullah : “Dosa dosaku”
Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”
Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”
Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”
Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”
Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”
Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”
Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”
Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”
Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insya ALLAH kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insya ALLAH kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman" (QS. Al-Imran : 139)