Ketika Rosululloh berada disamping kita (Sebuah Renungan)
“Assalamu’alaikum
wa rahmatullahi wa barokatuh” sapanya. “Wahai saudaraku, betulkah engkau
benar-benar beriman kepadaku disamping beriman kepada Allah? Sudahkah keimananmu
itu menjadikanmu tenteram dan tidak
mencari kedamaian dari keimanan-keimanan yang lain? “Wahai
saudaraku, benarkah cintamu kepadaku lebih dalam dan besar dari cintamu kepada
harta, jabatan dan keluargamu? Sudahkah engkau siap untuk mengorbankan
kedudukanmu yang begitu engkau banggakan ketika Sunnahku mengharuskan engkau
berkata benar dan bertindak tegas dan jabatan adalah taruhannya? Bukankah
engkau telah melihat bagaimana nasib ummatku yang kelaparan, telanjang
kedinginan dan tidur di bantalan kereta api? Sudahkah engkau berbuat sesuatu
dengan hartamu? "Wahai
saudaraku, sesekali aku mendengar engkau membaca Shalawat kepadaku,
bersenandung diba dan barzanzi memujiku sudahkah engkau benar-benar
menghayati maknanya dan merenung arti yang terkandung didalamnya? Masihkah
engkau ingat dengan isi Sholawat dan pesan barzanzi ketika engkau berada
diproyek, saat melakukan tender, saat transaksi keuangan, saat memilih bank,
saat memilih asuransi, saat meluncurkan produk baru, saat sales promotion,
saat memilih sales-girl, saat meramcang iklan, saat menentukan pakaian
model iklan, saat membahas PERDA di DPRD, saat meminta pengusaha membayar
sejumlah dana untuk meloloskan RUU, saat menentukan SPJ, saat melihat korban
tsunami, saat mendengar adanya gempa, saat menerima korban, Lumpur? Atau engkau
hanya membaca Shalawat untuk lip service saja dngan harapan aku akan memberimu
syafaat di Padang Mahsyar di Hari Kiamat nanti? Mulutmu mengucap tetapi hatimu
kosong, fikiranmu menerawang, dan tindakanmu teramat jauh dari Sunnah ku”. “Wahai
saudaraku, mohon maaf dan jangan tersinggung jika aku bertanya demikian, itulah
yang aku amati dari kebanyakan ummatku saat ini baik di Indonesia maupun
belahan bumi Allah lainnya. KTP nya Muslim tetapi tindak tanduknya Masya Allah…
Sungguhpun demikian jangan kawatir saudaraku, Aku sebagai Rosul Allah akan tetap
berdo’a kepadaNya untuk keselamatan semua. Aku akan tetap memberikan
Syafaa’atku kepadamu selama engkau tidak menyekutuan Allah dan tidak terlalu
banyak membuat dosa-dosa besar.” Wahai
saudaraku aku bahagia engkau telah membaca perjalanan dakwah dan riwayat
hidupku. Aku berharap disetiap disetiap lembaran buku yang kau baca akan kau
dapatkan hikmah dan pencerahan serta motivasi untuk berjuang menuju hari esok
yang lebih baik”. “Aku
memahami hidup semakin hari semakin sulit apalagi di kota-kota besar. Harga
barang dan kebutuhan semakin hari semakin mahal, pendidikan semakin elitis,
kesehatan semakin tidak terjangkau, transportassi tidak murah dan amburadul.
Aku melihat diantara kalian ada yang stress dan ciut nyalinya. Demikian
pula anak-anak kalian yang sudah beranjak remaja dan dewasa. Mereka seolah limbung melihat
kebingungan orang tuanya dan tidak terlalu bergairah melihat masa depan mereka
sendiri.“ “Jangan
sedih, saudaraku! Aku dulu juga mengalami masa-masa yang sulit diusia kecilku.
. Aku terlahir sebagai yatim. Setelah berusia enam tahun, ibu tercinta pun
mangkat di kampung Abwa saat pulang dari pusara ayahku di Madinah. Saat itupun
aku bertanya pada Ummu Ayman, pembantu setia Ibuku kemana aku harus pergi? Di
rumah siapa aku harus tinggal? Siapa yang akan membiayai sekolahku, Siapa yang
akan membelikan bajuku? Siapa yang akan merawatku? Siapa yang akan memberikan
belai kasih sayang padaku? Ayahku telah meninggal, kini Ibu ku menyusul pula.” “Ummu
ayman membesarkan hatiku dengan membawaku ke kakanda tercinta Abdul Muththolib.
Beliau mencurahkan kasih dan sayangnya kepadaku tetapi apa dinyana hanya
berselang dua tahun ia pun dipanggil Allah SWT. Kini aku harus mencari tempat
berteduh lagi. Syukurlah kakenda menitipkanku dengan Abu Thalib, saudara tua ayahku.
Aku harus berterima kasih dan berbesar hati dengannya di rumahnya, meskipun
pamanda adalah orang yang keadaan finansialnya tidak terlalu ajeg dan
sering kekurangan makan dirumah.” Untuk
meringankan beban ekonomi aku bekerja “serabutan”. Sebagai anak remaja aku
mengerjakan apa saja asalkan halal; dari menggembala kambing, mencari kayu
bakar, sampai memikul batu untuk pembanguna rumah tetangga.
Semua itu aku lakukan sebagai bagian self development dan leadership
development.” “Wahai
saudaraku, aku juga gusar mendengar banyak sekali ummatku yang tidak mau
berusaha dan memulai bisnis karena alasan klasik; tidak punya modal, tidak punya
uang dan tidak punya jaminan untuk pinjam. Sesungguhnya untuk menjadi entrepreneur
tidak melulu seluruhnya harus diawali dengan modal uang setumpuk. Menurutku, money
is the not number one capital in business., the number one capital in bussines
is trust (amanah) and competency. Uang bukanlah modal utama dan
segala-galanya dalam bisnis. Modal utama dalam bisnis adalah kepercayaan dan
kompetensi. Bukankah engkau sudah melihat sendiri aku telah buktikan bahwa
tanpa modal secuil pun aku bisa menjalankan bisnis dengan menerima amanah
dagangan para investor makkah. Dengan kepercayaan itu aku berdagang menjual
barang mereka dan berbagi hasil atas dasar system mudharabah. memang
benar,untuk mendapat kepercayaan tidaklah mudah; kita harus jujur, walk the
walk, melaksanakan apa yang anda katakan, tidak mengumbar janji dan teguh
memegang kepercayaan orang.” “Sungguh
pun demikian, jujur saja ternyata tidak cukup. Syarat berikutnya anda harus fathonah
atau kompeten dibidang anda. Kalau sebagai pedagang anda harus tahu barang apa
yang laku dan sedang model saat ini, bagaimana customer behavior masyarakat
suatu daerah, apakah mereka hidup dengan 2 musim (penghujan dan kemarau) atau
mereka memiliki 4 musim (spring, autumn, summer, winter). Anda harus
memiliki selling skill yang baik, murah senyum, sabar meladeni nasabah, service
excellence dan on-time dalam delivery barang. Di samping itu
anda juga harus banyak bergaul dan memperluas network, jangan jadi jago
kandang sambil mengharap proteksi dari pemerintah. Ketika aku muda dulu, Aku
jajakan barang dagangan Makkah di Madinah, dari Madinah aku ke pasar al-Rabih
di Hadralmaut, Souq San’a dan souq Aden di Yaman, pasar Suha dan pasar Daba di
Oman, kota Jerassh di Jordan, dan pasar al-Mushaqqadar di Bahrain.” “Mohon
diingat dengan baik saat itu belum ada pesawat terbang seperti kalian pakai
saat ini. Aku menunggang unta, mengarungi lautan padang pasir yang sangat panas
dan berbahaya, tanpa toilet, tanpa AC, tanpa pramugari atau makanan siap saji.
Saat itu aku juga menghadapi kesulitan untuk berkomunikasi dengan investorku di
Makkah karena belum ada fax, email apalagi SMS atau fasilitas teleconference.
Lebih dari itu aku juga harus menjaga hasil penjualan dengan ekstra ketat karena
belum ada bank dan safe deposit box. Kalau sedang butuh uang tunai
tambahan, aku harus pandai pandai mensiasati karena saat itu belum ada ATM
seperti saat ini.” “Mengenai
masalah keluarga, terkadang Aku suka sedih kalau mendengar sebagian orientalis
dan sebagian ummatku yang berfikir seperti orientalis menuduhku dengan tuduhan
yang menyakitkan. Mereka menuduhku sebagai seorang hipersex, fedofil dan
memiliki istri yang tidak terbatas jumlahnya. Seolah tidak ada cerita lain dari
kehiidupan rumah tanggaku kecuali poligami.” “Jika
anda melihat perjalanan hidupku anda akan melihat bahwa selama 25 tahun atau
lebih aku hanya memiliki seorang istri Khadijah Binti Khuwalaid. Disaat
Khadijah hidup cintaku hanya untuk dirinya. Pada usia sekitar 51 tahun baru aku
diamanahi Allah untuk mencari pengganti Khadijah, guna menemani perjuangan
dakwah ini.” “Lebih
penting lagi jika anda perhatikan hampir semua istri-istriku setelah Khadijah
adalah janda-janda yang tidak jarang usianya lebih tua dariku. Saudah binti
Zam’ah misalnya berusia 65 tahun saat aku berusia 51 tahun. Ia adalah janda
dengan 12 anak yang ditinggal mati oleh suaminya Sukran bin Amsal al-Anshari.
Demikian juga Maimunah binti al-Harits janda Ruham bin Abdul Uzza, ia berusia
63 tahun saat aku berusia 58 Maimunah banyak membantuku dalam dakwah dikalangan
Yahudi bani Nadhir, karena ia adalah keturunan yahudi. Sama juga halnya dengan
Juwariyyah binti Harits al-Khuzaiyyah, ia berusia 65 tahun ketika Aku 57. Ia
termasuk janda miskin dengan 17 anak. Satu-satunya wanita yang dinikahi dalam
keadaan gadis adalah ‘Aisyah dan Maria al-Qibthiyyah, seorang budak yang
dihadiahkan oleh al-Muqauqis Mesir lalu kumerdekakan.” “Wahai
saudaraku, aku bersyukur melihatmu dan teman-temanmu yang lain giat
mendakwahkan Islam. Memang sudah selayaknya setelah kita menikmati manisnya
iman dan lezatnya bermunajat kepada Allah kita harus sharing dan ajak
saudara-saudara kita mendapatkannya. Dakwah yang benar adalah dakwah yang
keluar dari hati, disampaikan dengan bahasa yang santun dan memperhatikan
kondisi psikologis teman bicara kita. Dakwah adalah suatu proses tranformasi
hati, fikiran dan tindakan. Oleh karena itu dakwah memerlukan waktu dan kita harus
sabar menjalaninya. Lebih dari itu dakwah memerlukan pengorbanan baik waktu,
dana, posisi serta jabatan dan bahkan kadang nyawa anda.” “Ketahuilah
wahai saudaraku, bahwa dakwah yang paling utama adalah dakwah dengan suri
tauladan. Usahakanlah dengan maksimal untuk Sholat Tahajjud secara
teratur sebelum kita mengajak orang lain bangun Sholat Malam. Bermurah
tanganlah kepada kerabat dekat dan handai taulan serta fakir miskin sebelum
kita mengajak orang bershodaqoh. Berhentilah merokok sebelum menyuruh anak anda
berhenti merokok. Tekanlah ego anda dan tebarkanlah senyum sebelum anda
menyuruh orang lain berperilaku santun.” “Ketahuilah,
bahwa yang paling aku sedihkan saat ini adalah buruknya citra Islam karena
buruknya perilaku sebagian Ummatku. Mereka bernama Muhammad, Abdullah, Thariq,
Badruddin, Saifullah, Ansyari tetapi kelakuannya jauh lebih biadab dari
orang-orang jahiliyah di zamanku. Perangai buruk mereka jelas akan sangat
negatif dampaknya terhadap dakwah islam. Karena orang diluar sana akan melihat
cerminan Islam dari apa yang dilakukan oleh para pemeluknya.” “Wahai
saudaraku berusahalah untuk bergaul dan membina hubungan kemasyarakatan secara
harmonis, karena kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa orang lain. Memang
tidaklah mudah untuk bergaul apalagi mengatur orang banyak. Mereka datang dari
berbagai latar belakang dengan kepentingan yang berbeda-beda.” “Janganlah
berkecil hati bila bila berjumpa dengan orang yang sulit diatur atau bermuka
dua karena dulu pun aku pernah mengalaminya. Anda bayangkan bagaimana sulitnya
menyatukan ratusan atau ribuan pengungsi dari Makkah (Muhajirin) yang
kelaparan, tidak punya harta, tidak punya mata pencaharian dan tidak punya
rumah di Madinah. Mereka meninggalkan segalanya di Makkah demi Keimanannya. Aku
juga bertanggung jawab untuk membesarkan hati orang Madinah untuk menolong para
pengungsi tersebut. Ironisnya penduduk Madinah pun tidak homogen. Diantara kaum
Anshar ada kabilah Auz dan kabilah Khazraj yang sudah ratusan tahun berperang
memperebutkan pepesan kosong. Disamping Auz dan Khuzraj ada juga kaum kristiani
bani Najran dan belasan suku yahudi yang sangat kuat mencengkram perekonomian
Madinah. Mereka itu adalah bani Nadhir, bani Qainuqa’, banin Quraizhah, bani
Ikrimah, bani al-Syaziyah, bani Mahmar, bani Zau’ra, bani Jusy’am, bani Bahdal,
bani al-Qisash, dan bani Sa’labah. Tetapi Aku bersyukur kepada Allah dapat
menyatukan mereka melalui Piagam Madinah. Melalui Piagam Madinah mereka bahu
membahu membangun kota dan peradaban baru.” “Wahai
saudaraku, ada dua cara yang kuterapkan dalam membina individu demikian juga
masyarakat agar tertib dan teratur yaitu melalui pendidikan dan penegakan
hukum. Ingatlah, ketika pendidikan Aku tidak bermaksud dengan proses alih
informasi dan transmisi data semata, tetapi kumaksudkan adalah Tarbiyyah yang
terambil dari kata Rabba , Yarbu (tumbuh, bertambah, berkembang) atau Rabba,
Yarubbu (mengatur ,mengurus, mendidik). Tarbiyyah mengambil tempat bukan hanya
di kelas, tetapi di rumah, di Masjid, di gunung, saat Sholat, saat Berhaji,
saat berolah raga, saat rapat, dan ketika berinteraksi dengan masyarakat. Aku
berharap dengan Tarbiyyah yang benar ummatku akan melakukan transformasi dan
berkembang ke arah yang lebih baik dari sisi fisik, intelektual, financial dan
spiritual.” “Kalau engkau pelajari hadits-haditsku,
engkau akan mendapatkan belasan bahkan puluhan metode yang telah ku contohkan
agar proses Tarbiyyah dapat berjalan dengan baik. Diantara metode-metode
tersebut adalah learning conditioning, active interactyion, appied-learning
method, scanning and leveling, discussion and feedback, story-telling, analogy
and case study, teaching and motivating, body language, picture and graph
technology, reasoning and argumentation, self-reflection, affirmation and
repetition, focus and point basis, question and answer method, guessing with
question, encouraging students to ask, wisdom in answering question commenting
on student question and honesty.” “Walaupun
metode-metode Tarbiyyah dariku sudah sangat beragam, tidak sedikit dari ummatku
yang tetap keras kepala dan bebal. Mereka tidak bisa ditundukkan dengan ajaran
Al-Qur’an atau hadits-hadits yang berisi nasihat-nasihat. Sebagian ummatku
tidak bergeming ketika mendengar larangan minuman keras. Mereka baru berhenti
mabuk ketika cambuk mengenai badannya. Mereka juga tidak takut dengan larangan
mencuri, tangannya baru berhenti korupsi ketika dirinya sudah didalam penjara.
Mereka juga tidak sungkan-sungkan menggauli wanita diluar nikah, tidak takut
dengan peringatan zina sampai penyakit AIDS yang berupa kutukan ALLAH
menimpanya. Oleh karena itu system perlu ditegakkan.” “Ingatlah
wahai saudaraku, tegakkanlah hukum dengan Seadil-Adilnya! Dengarkanlah alasan
dan argumentasi dari seetiap pihak sehingga kau mendapat gambaran dengan penuh.
Jika dating seorang dengan berperkara dengan memperlihatkan matanya yang hancur
sebelah sabarlah dahulu sampai pihak kedua dating, siapa tahu pihak kedua
dating dengan kedua mata yang hancur dan buta. Janganlah kau bersikap keras
kepada yang lemah dan lunak kepada yang kuat. Jangan kau putar balikkan putusan
perkara hanya karena uang sepuluh, dua puluh, seratus atau dua ratus juta, atau
sepuluh, dua puluh milyar. Ingatlah, berapapun uang sogokan yang engkau terima
tidak akan cukup untuk menebusmu dari siksaan ALLAH di Neraka Jahannam. Lebih
dari itu, semakin banyak uang haram yang engkau terima semakin banyak kayu
bakar neraka yang akan dinyalakan dengannya.” “Wahai
saudaraku, jagalah agama Islam ini baik-baik! Aku dan Shahabat-shahabatku
dahulu memperjuangkannya dengan tetesan keringat, air mata dan darah. Selama
sepuluh tahun tidak kurang dari sembilan peperangan besar dan lima puluh tiga
ekspedisi militer ku jalani. Dengan segala kekurangan bekal dan kesederhanaan
senjata, sedikit demi sedikit bumi ALLAH dibebaskan dari belenggu
kejahiliyahan.” “Wahai
saudaraku, janganlah egois dan sok sibuk, sehingga tidak mau berjuang serta
berkorban untuk Islam, karena alasan keterbatasan waktu bisnis dan mengurusi
proyek. Niscaya jika Shahabatku Abu bakar,
Umar, Utsman, Ali, Hamzah, Saad bin Abdurrahman ibn Auf mengatakan “I am
too busy with my business, I don’t have time for Islam” Aku yakin Islam tidak
akan sampai ke Jakarta, Surabaya, Medan, Brunei, Kuala Lumpur, New Delhi,
Islamabad, Tunisia, atau Casablanca, juga Kampung Halaman kalian masing-masing.
Islam sampai ketempat kalian karena jasa-jasa mereka.” “Wahai
saudaraku, dalam setiap ekspedisi militerku terdapat Ibrah, Pelajaran dan
Hikmah yang berguna ketika engkau
menyusun strategic planning baikuntuk pengembangan bisnis, pendidikan,
memajukan karir ataupun bidang sosial kemasyarakatan.” “Wahai
saudaraku, akhirnya aku ingin meninggalkan dua hal sebagai oleh-oleh
perjumpaanku denganmu. Ambil keduanya dengan baik peganglah erat-erat, Aku
berjanji selama engkau berpedoman kepada keduanya engkau akan sukses di dunia
dan akhirat. Itulah Al-Qur’an dan Sunnahku.” Setelah cukup
puas mendengarkan Rosulullah bertutur dan memberi nasihat akhirnya anda
berkata, “Terima Kasih Banyak Wahai Baginda Rosul, Engkau telah memberikan
nasihat dan suri tauladan yang begitu mulia hari ini padaku.” Tidak lama
setelah itu anda pun berpisah dengan menyalami dan memeluk Rosul Mulia itu. Penutup; Teman-teman saya
mohon maaf jika dalam menggambarkan diskusi dengan Rosulullah ada yang tidak
pada tempatnya. Tetapi pada intinya kita harus mempersiapkan jawaban jika satu
saat nanti berjumpa dengannya dan beliau menyapa kita, “Benarkah kau cinta
Kepadaku? Sejauh mana kau telah mengikuti Sunnahku? Sudahkah kau amalkan Suri
Tauladanku? Sejauh mana Ia telah mewarnai Kehidupanmu? Mudah-mudahan
kita dapat memberikan jawaban seperti yang beliau kehendaki ketika Beliau
mengemukakan pertanyaan-pertanyaan diatas diperjumpaan dengan Beliau kelak di
Akhirat…AMIIN YA RABB AL-ALAMIN.  Inspirasi
dari buku “MUHAMMAD SAW The Super Leader Super Manager” (Dr.
Muhammad Syafii Antonio, M.Ec / Nio Gwan
Chung) |