Dream Pamungkas

Ayat AL QUR'AN
Solidaritas Palestina
Software Computer Tips
MER~C
Software Computer Tips
Jadwal Adzan
Ar-Roya
On Facebook



Islam-Download.net
Software Computer Tips
Biar cinta itu bermuara dengan sendirinya
Jumat, 23 Juli 2010

Kenapa tak pernah kau tambatkan
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu
pelabuhan tenang yang mau menerima
kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada
satu pelabuhan kecil, yang kemudian
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

(Judul Puisi ” Pelabuhan ” karya Tyas Tatanka, kumpulan puisi 7 penyair serang)

Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan – kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan.

Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami agama Islam dengan lebih intens. Dan laki-laki itu, dia paham agama, aktif diorganisasi keislaman, dan masih banyak lagi hal – hal positif yang ada dalam diri lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus menggali ilmu agama. dan mempraktekkannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita, curahan hati, saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.

Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya “Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi?”

Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab ” entahlah..”

Sampai suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang… Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya… Selalu dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki-laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..

Perempuan itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka dihati… Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini…. Air mata nya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam… Dia berjanji untuk tidak mengisi hari-harinya dengan kesia-siaan.

“Lalu bagaimana dengan sosok laki-laki itu ??” Perlahan saya bertanya padanya.

“Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak dihati…. Biarlah hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati – hati dalam menata hati dan melabuhkan hati,” ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya menemukan perempuan itu kini benar-benar menepati janjinya.

Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga, tawa-tawa pelangi, pijar bintang dimata anak anak jalanan yang menjadi anak didiknya…. Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan karya…cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orang tua dan keluarganya… Dan yang paling hakiki adalah cinta nya pada Illahi yang selalu mengisi relung-relung hati..tempatnya bermunajat disaat suka dan duka… Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga…. saat seseorang itu pun hilang begitu saja… Masih ada setangkup harapan agar dia kembali….Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati…. akan selalu ada beribu kata maaf untuknya…. Masih ada beribu penantian walau tak pasti… Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??

Masih ada sejuta asa…. Masih ada sejuta makna…..Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama….

“Lalu… bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada??” tanya saya suatu hari.

Perempuan itu berujar,
”Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya… 
disaat yang tepat… 
dengan seseorang yang tepat….
dan pilihan yang tepat……
hanya dari Allah Swt. disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatatan pernikahan yang barokah..”

Semoga saja akan demikian adanya… AMIIN YA RABBAL AL-ALAMIN


Sumber Era Muslim
posted by Jony Pamungkas @ 07.32   0 comments
Cinta adalah Tangga Menuju Puncak
Kamis, 22 Juli 2010
"Cinta Adalah Tangga Menuju Puncak"

Yang mampu mencintai adalah orang yang mampu memahami, melihat, merasakan, berpadu dan memberi. Setiap kali pengetahuan hakiki manusia terhadap cinta bertambah, maka bertambah pula kemampuan hatinya untuk mencintai. Karena itu, sangat sulit bagi orang yang tidak mengenal cinta secara teoritis untuk memahami cinta  menerapkannya. Sangat sulit bagi orang yang tidak mengetahui nilai cinta (moral) untuk mencintai; dan mustahil baginya dapat naik menuju puncak, karena cinta adalah batu pijakan terakhir piramida moral. Tidak mungkin menemukan batu pijakan terakhir, sementara piramida itu sendiri tidak ada.

Cinta dan naik menuju puncak adalah dua hal yang selalu saling menetapi. Seorang manusia mulai keluar dari dirinya dan mencintai orang lain, setiap kali pengetahuannya meningkat; kepribadiannya matang; dan perasaannya menjadi halus.

Seorang manusia biasa seperti kebanyakan makhluk lainnya hanya mencintai dirinya, sedangkan manusia pecinta, cintanya lebih luas hingga kepada orang-orang di sekitarnya. Cinta seperti itu dapat membebaskan kekuatan-kekuatan yang sebelumnya terpendam dan tersembunyi.

Setiap kali seseorang memberikan cinta, maka pada saat itu juga dia akan mengambil cinta sekadar yang diberikannya, sebab di antara undang-undang cinta bahwa cinta adalah pemberian dalam bentuk pengambilan dan pengambilan dalam bentuk pemberian.

Seorang manusia harus tahu bahwa cinta tidak diberikan dengan syarat. Cukup baginya merasa menjadi orang yang paling beruntung, karena dia memiliki cinta yang akan dia berikan kepada orang lain, dan cukup baginya dengan merasa bahagia hanya dengan memberi, bukan demi apa yang akan didapatkannya sebagai balasan.
Perbedaan antara cinta ALLAH SWT kepada kita dan cinta kita, manusia, adalah diri kita yang kebingungan ini akan sadar ketika kita mencintai dan diri kita yang kekurangan ini akan sempurna ketika kita mencintai dan membutuhkan orang yang kita cintai.

Adapun ALLAH "Maha Suci DIA dari seperti itu. Makna cinta bagi ALLAH SWT adalah Maha Memberi tanpa menghitung. Dia Maha Penyayang tanpa henti dan rahmat-Nya tanpa batas."

Sesungguhnya Anda, ketika Anda menjadi seorang pecinta, maka sesungguhnya Anda mendapatkan segala pemuliaan yang Anda butuhkan. Oleh kare itu, Anda harus memahami dan meyakini bahwa Anda mencintai, sebab Anda harus mencintai dan sebab Anda menginginkan cinta demi diri Anda, bukan demi orang lain, juga bukan demi kesenangan dan kegembiraan yang diberikan oleh cinta kepada Anda, serta demi kebahagiaan yang akan didapatkan oleh orang lain.

Apabila mereka mendukung Anda dan menolong Anda, maka itu bagus. Namun apabila mereka tidak melakukan hal itu, maka akan bagus juga, sebab Anda ingin bahwa Anda dapat merasakan cinta. Itu saja.
Anda harus mencintai orang lain tanpa bermaksud menitipkan hati Anda kepada orang yang Anda cintai, namun dengan harapan, cinta Anda akan berbuah cinta di hati orang yang dicintai.

Cinta adalah lorong keimanan. Siapa yang imannya sedikit, maka cintanya pun sedikit. Cinta yang teguh adalah yang memberikan segala sesuatu dan tidak pernah memperkirakan mendapatkan sesuatu atau kehilangan harapan. Kepedihan tidak datang dari cinta, kecuali apabila cinta itu dikotori oleh tuntutan-tuntutan seperti itu.

Apabila seseorang menanti-nanti balasan cintanya, maka dapat dipastikan harapannya itu akan sia-sia, sebab bukan kuasa manusia memuaskan segala kebutuhan, sekalipun cinta mereka kepadanya begitu besar. Sebaliknya, apabila dia memilih untuk tidak mencintai, kecuali ketika dia yakin mendapatkan cinta yang sepadan sebagai balasannya, maka dia akan terus menunggu sampai Kiamat tiba.

Sebenarnya imbalan cinta adalah satu-satunya pendorong untuk mengenal cinta. Cinta akan memberikan imbalan kepada Anda tanpa memandang sikap orang-orang terhadap Anda. Anda harus menebar cinta dan tidak perlu menunggu balasan. Begitulah kiranya maksud perumpamaan yang dikatakan oleh Sypmackay : Sesungguhnya perkiraan tidak sampainya sebuah surat, bukan berarti surat itu tidak pantas untuk dikirim.

Jadikanlah cintamu itu seperti sungai. Tidak ada satu pun yang dapat menghentikan dan membendungnya, selain akan ada saja orang yang berjalan bersamanya, seperti sungai yang memberikan kesuburan pada tanah juga tanaman dan tidak pernah menunggu balasan.

Ketika cinta Anda sama seperti sungai yang mengalir dan Anda tidak berhenti mencintai karena menunggu bayaran cinta Anda, maka ketika itu Anda menjadi seorang yang benar-benar merdeka.





Jazakallahu katsir Mba’ Riyanti telah berkenan membagi Ilmunya…
posted by Jony Pamungkas @ 17.15   0 comments
Hidayah Yang Tak Teraih
Cahaya yang Tak Teraih
Publikasi: 06/04/2005 08:09 WIB


eramuslim ~ Padahal Rasulullah SAW pun tidak dapat mengajak pamannya sendiri ke dalam nikmat ber-Islam. Padahal Nabi Luth AS dan Nabi Nuh AS pun tidak dapat menggandeng istri mereka dalam indahnya cahaya hidayah. Padahal Asiyah yang telah dijanjikan Allah akan dibangunkan rumah di surga pun, tidak dapat mengajak Fir’aun, suaminya sendiri, untuk menempati rumah yang sama. Lalu, apakah kita berhak memaksa Allah untuk menebarkan hidayah itu di hati keluarga kita?
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS Al-Qoshosh: 56)
***

Bagaimana perasaan kita ketika membaca berita di koran tentang seorang pecandu yang terkena AIDS atau seorang wanita yang hamil di luar nikah atau seseorang yang mati bunuh diri atau mereka yang mendekam di penjara karena predikatnya sebagai maling? Apakah kita akan merasa sedih atau simpati kepada mereka? Ataukah justru kita berpikir, “Ih, salah dia sendiri dong. Rasain tuh akibatnya!”. Mungkin juga kita hanya menyenandungkan istighfar sambil menyesalkan semakin jauhnya ummat ini dari hal-hal yang telah disyari’atkan-Nya.

Memang, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Mereka sendiri yang telah memilih untuk menggunakan obat-obat laknat itu, memilih untuk berzina, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, memilih untuk mengambil apa yang bukan haknya. Itu memang benar, mereka sendiri yang memilih menjalani kehidupan seperti itu. Dan untuk pilihan itu, mereka juga yang harus menanggung konsekuensinya, sebagai azas kausalitas yang tidak bisa dibantah.

Tapi ternyata, ketika kejadian yang sama menimpa keluarga kita, sikap yang sama tidak dapat kita hadirkan. Tiba-tiba semua orang terdiam, semua mata basah oleh airmata. Jangankan berpikiran “salah sendiri”, rasanya dunia seakan kiamat. Terngiang di telinga firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6)

Masalah sudah menjadi demikian kompleks untuk menelusuri siapa yang salah dan siapa yang benar. Semua mengambil peranan di dalamnya. Orang tua, kakak, adik, sepupu, om, tante… semua ikut bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Minimal, mereka ikut berperan dengan sikap ketidakpedulian mereka.

Sedih, sangat. Apalagi jika hal itu terjadi pada anggota keluarga seorang aktifis dakwah. Ketika sang da’i sibuk berkoar-koar di luar, mengisi pengajian, tabligh, atau menjadi orator, ternyata apa yang diserukannya untuk ditinggalkan, justru dikerjakan oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Istilah ‘shalih tapi tidak menshalihkan’ mungkin adalah gelar yang cocok untuk sang da’. Ungkapan seperti “Ah, anaknya si Ustadz itu saja masih merokok dan minum-minuman keras,” atau “Tuh, adiknya si Pak Haji anu kemarin diajukan ke pengadilan karena ketahuan korupsi,” mewarnai penilaian masyarakat tentang dakwah yang timpang sebelah ini. Tidak jarang pula, penilaian inilah yang membuat masyarakat menjadi phobi terhadap dakwah mereka selanjutnya.

Menyandang label sebagai seorang penyeru kebaikan memang tidak mudah. Dakwah kita diterima masyarakat lebih sering bukan hanya karena apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita kerjakan. Begitupun dengan keluarga. Parameter bagi kesuksesan dakwah seorang da’i salah satunya adalah dari kondisi keluarganya. Merupakan hal yang wajar jika masyarakat ingin menilai seberapa jauh keberhasilan seorang ‘marketer’ Islam dalam membidik lingkar terdekat pergaulannya sehari-hari. Walaupun dalam kacamata marketing juga dikenal adanya suatu skala prioritas, untuk mengarahkan sebagian besar potensi kepada segmen market yang peluangnya lebih besar untuk menerima apa yang kita jual, dan tidak selalu keluarga kita memenuhi kriteria tersebut.

Lantas, haruskah kita berhenti berdakwah ketika kondisi keluarga kita belum ‘islami’? Salahkah seorang da’i yang berusaha merangkul orang lain sementara keluarganya masih berada dalam lingkup jahiliyah? Salahkah? Ya, mungkin memang salah, jika beliau sama sekali tidak berusaha mengingatkan mereka tentang adanya pahala dan dosa, tentang adanya surga dan neraka, tentang azab dan nikmat. Memang salah, jika beliau hanya bermaksud menjadi shalih sendirian. Bukankah Allah telah berfirman, “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS Al-Ghaasyiyah: 21)

Tugas kita sebenarnya hanyalah sampai pada tahap mengingatkan. Lalu sisanya adalah wilayah kekuasaan Allah untuk menentukan apakah orang yang kita beri peringatan tersebut akan dipilih-Nya sebagai penerima hidayah atau tidak, walaupun notabene adalah keluarga kita sendiri. Kita hanya bisa berikhtiar sambil terus mendo’akan mereka.

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS Al-Baqarah: 272)

Wallahu a’lam bis-showab
posted by Jony Pamungkas @ 12.42   0 comments
Ketika Rosululloh berada disamping kita (Sebuah Renungan)
Jumat, 16 Juli 2010
Ketika Rosululloh berada disamping kita  (Sebuah Renungan)
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh”  sapanya. “Wahai saudaraku, betulkah engkau benar-benar beriman kepadaku disamping beriman kepada Allah? Sudahkah keimananmu itu menjadikanmu  tenteram dan tidak mencari kedamaian dari keimanan-keimanan yang lain?
“Wahai saudaraku, benarkah cintamu kepadaku lebih dalam dan besar dari cintamu kepada harta, jabatan dan keluargamu? Sudahkah engkau siap untuk mengorbankan kedudukanmu yang begitu engkau banggakan ketika Sunnahku mengharuskan engkau berkata benar dan bertindak tegas dan jabatan adalah taruhannya? Bukankah engkau telah melihat bagaimana nasib ummatku yang kelaparan, telanjang kedinginan dan tidur di bantalan kereta api? Sudahkah engkau  berbuat sesuatu dengan hartamu?
"Wahai saudaraku, sesekali aku mendengar engkau membaca Shalawat kepadaku, bersenandung diba dan barzanzi  memujiku sudahkah engkau benar-benar menghayati maknanya dan merenung arti yang terkandung didalamnya? Masihkah engkau ingat dengan isi Sholawat dan pesan barzanzi ketika engkau berada diproyek, saat melakukan tender, saat transaksi keuangan, saat memilih bank, saat memilih asuransi, saat meluncurkan produk baru, saat sales promotion, saat memilih sales-girl, saat meramcang iklan, saat menentukan pakaian model iklan, saat membahas PERDA di DPRD, saat meminta pengusaha membayar sejumlah dana untuk meloloskan RUU, saat menentukan SPJ, saat melihat korban tsunami, saat mendengar adanya gempa, saat menerima korban, Lumpur? Atau engkau hanya membaca Shalawat untuk lip service saja dngan harapan aku akan memberimu syafaat di Padang Mahsyar di Hari Kiamat nanti? Mulutmu mengucap tetapi hatimu kosong, fikiranmu menerawang, dan tindakanmu teramat jauh dari Sunnah ku”.
“Wahai saudaraku, mohon maaf dan jangan tersinggung jika aku bertanya demikian, itulah yang aku amati dari kebanyakan ummatku saat ini baik di Indonesia maupun belahan bumi Allah lainnya. KTP nya Muslim tetapi tindak tanduknya Masya Allah… Sungguhpun demikian jangan kawatir saudaraku, Aku sebagai Rosul Allah akan tetap berdo’a kepadaNya untuk  keselamatan semua. Aku akan tetap memberikan Syafaa’atku kepadamu selama engkau tidak menyekutuan Allah dan tidak terlalu banyak membuat dosa-dosa besar.”
Wahai saudaraku aku bahagia engkau telah membaca perjalanan dakwah dan riwayat hidupku. Aku berharap disetiap disetiap lembaran buku yang kau baca akan kau dapatkan hikmah dan pencerahan serta motivasi untuk berjuang menuju hari esok yang lebih baik”.
“Aku memahami hidup semakin hari semakin sulit apalagi di kota-kota besar. Harga barang dan kebutuhan semakin hari semakin mahal, pendidikan semakin elitis, kesehatan semakin tidak terjangkau, transportassi tidak murah dan amburadul. Aku melihat diantara kalian ada yang stress dan ciut nyalinya. Demikian pula anak-anak kalian yang sudah beranjak remaja  dan dewasa. Mereka seolah limbung melihat kebingungan orang tuanya dan tidak terlalu bergairah melihat masa depan mereka sendiri.“
“Jangan sedih, saudaraku! Aku dulu juga mengalami masa-masa yang sulit diusia kecilku. . Aku terlahir sebagai yatim. Setelah berusia enam tahun, ibu tercinta pun mangkat di kampung Abwa saat pulang dari pusara ayahku di Madinah. Saat itupun aku bertanya pada Ummu Ayman, pembantu setia Ibuku kemana aku harus pergi? Di rumah siapa aku harus tinggal? Siapa yang akan membiayai sekolahku, Siapa yang akan membelikan bajuku? Siapa yang akan merawatku? Siapa yang akan memberikan belai kasih sayang padaku? Ayahku telah meninggal, kini Ibu ku menyusul pula.”
“Ummu ayman membesarkan hatiku dengan membawaku ke kakanda tercinta Abdul Muththolib. Beliau mencurahkan kasih dan sayangnya kepadaku tetapi apa dinyana hanya berselang dua tahun ia pun dipanggil Allah SWT. Kini aku harus mencari tempat berteduh lagi. Syukurlah kakenda menitipkanku dengan Abu Thalib, saudara tua ayahku. Aku harus berterima kasih dan berbesar hati dengannya di rumahnya, meskipun pamanda adalah orang yang keadaan finansialnya tidak terlalu ajeg dan sering kekurangan makan dirumah.”
Untuk meringankan beban ekonomi aku bekerja “serabutan”. Sebagai anak remaja aku mengerjakan apa saja asalkan halal; dari menggembala kambing, mencari kayu bakar, sampai memikul batu untuk pembanguna rumah tetangga. Semua itu aku lakukan sebagai bagian self development dan leadership development.
“Wahai saudaraku, aku juga gusar mendengar banyak sekali ummatku yang tidak mau berusaha dan memulai bisnis karena alasan klasik; tidak punya modal, tidak punya uang dan tidak punya jaminan untuk pinjam. Sesungguhnya untuk menjadi entrepreneur tidak melulu seluruhnya harus diawali dengan modal uang setumpuk. Menurutku, money is the not number one capital in business., the number one capital in bussines is trust (amanah) and competency. Uang bukanlah modal utama dan segala-galanya dalam bisnis. Modal utama dalam bisnis adalah kepercayaan dan kompetensi. Bukankah engkau sudah melihat sendiri aku telah buktikan bahwa tanpa modal secuil pun aku bisa menjalankan bisnis dengan menerima amanah dagangan para investor makkah. Dengan kepercayaan itu aku berdagang menjual barang mereka dan berbagi hasil atas dasar system mudharabah. memang benar,untuk mendapat kepercayaan tidaklah mudah; kita harus jujur, walk the walk, melaksanakan apa yang anda katakan, tidak mengumbar janji dan teguh memegang kepercayaan orang.”
“Sungguh pun demikian, jujur saja ternyata tidak cukup. Syarat berikutnya anda harus fathonah atau kompeten dibidang anda. Kalau sebagai pedagang anda harus tahu barang apa yang laku dan sedang model saat ini, bagaimana customer behavior masyarakat suatu daerah, apakah mereka hidup dengan 2 musim (penghujan dan kemarau) atau mereka memiliki 4 musim (spring, autumn, summer, winter). Anda harus memiliki selling skill yang baik, murah senyum, sabar meladeni nasabah, service excellence dan on-time dalam delivery barang. Di samping itu anda juga harus banyak bergaul dan memperluas network, jangan jadi jago kandang sambil mengharap proteksi dari pemerintah. Ketika aku muda dulu, Aku jajakan barang dagangan Makkah di Madinah, dari Madinah aku ke pasar al-Rabih di Hadralmaut, Souq San’a dan souq Aden di Yaman, pasar Suha dan pasar Daba di Oman, kota Jerassh di Jordan, dan pasar al-Mushaqqadar di Bahrain.”
“Mohon diingat dengan baik saat itu belum ada pesawat terbang seperti kalian pakai saat ini. Aku menunggang unta, mengarungi lautan padang pasir yang sangat panas dan berbahaya, tanpa toilet, tanpa AC, tanpa pramugari atau makanan siap saji. Saat itu aku juga menghadapi kesulitan untuk berkomunikasi dengan investorku di Makkah karena belum ada fax, email apalagi SMS atau fasilitas teleconference. Lebih dari itu aku juga harus menjaga hasil penjualan dengan ekstra ketat karena belum ada bank dan safe deposit box. Kalau sedang butuh uang tunai tambahan, aku harus pandai pandai mensiasati karena saat itu belum ada ATM seperti saat ini.”
“Mengenai masalah keluarga, terkadang Aku suka sedih kalau mendengar sebagian orientalis dan sebagian ummatku yang berfikir seperti orientalis menuduhku dengan tuduhan yang menyakitkan. Mereka menuduhku sebagai seorang hipersex, fedofil dan memiliki istri yang tidak terbatas jumlahnya. Seolah tidak ada cerita lain dari kehiidupan rumah tanggaku kecuali poligami.”
“Jika anda melihat perjalanan hidupku anda akan melihat bahwa selama 25 tahun atau lebih aku hanya memiliki seorang istri Khadijah Binti Khuwalaid. Disaat Khadijah hidup cintaku hanya untuk dirinya. Pada usia sekitar 51 tahun baru aku diamanahi Allah untuk mencari pengganti Khadijah, guna menemani perjuangan dakwah ini.”
“Lebih penting lagi jika anda perhatikan hampir semua istri-istriku setelah Khadijah adalah janda-janda yang tidak jarang usianya lebih tua dariku. Saudah binti Zam’ah misalnya berusia 65 tahun saat aku berusia 51 tahun. Ia adalah janda dengan 12 anak yang ditinggal mati oleh suaminya Sukran bin Amsal al-Anshari. Demikian juga Maimunah binti al-Harits janda Ruham bin Abdul Uzza, ia berusia 63 tahun saat aku berusia 58 Maimunah banyak membantuku dalam dakwah dikalangan Yahudi bani Nadhir, karena ia adalah keturunan yahudi. Sama juga halnya dengan Juwariyyah binti Harits al-Khuzaiyyah, ia berusia 65 tahun ketika Aku 57. Ia termasuk janda miskin dengan 17 anak. Satu-satunya wanita yang dinikahi dalam keadaan gadis adalah ‘Aisyah dan Maria al-Qibthiyyah, seorang budak yang dihadiahkan oleh al-Muqauqis Mesir lalu kumerdekakan.”
“Wahai saudaraku, aku bersyukur melihatmu dan teman-temanmu yang lain giat mendakwahkan Islam. Memang sudah selayaknya setelah kita menikmati manisnya iman dan lezatnya bermunajat kepada Allah kita harus sharing dan ajak saudara-saudara kita mendapatkannya. Dakwah yang benar adalah dakwah yang keluar dari hati, disampaikan dengan bahasa yang santun dan memperhatikan kondisi psikologis teman bicara kita. Dakwah adalah suatu proses tranformasi hati, fikiran dan tindakan. Oleh karena itu dakwah memerlukan waktu dan kita harus sabar menjalaninya. Lebih dari itu dakwah memerlukan pengorbanan baik waktu, dana, posisi serta jabatan dan bahkan kadang nyawa anda.”
“Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa dakwah yang paling utama adalah dakwah dengan suri tauladan. Usahakanlah dengan maksimal untuk Sholat Tahajjud secara teratur sebelum kita mengajak orang lain bangun Sholat Malam. Bermurah tanganlah kepada kerabat dekat dan handai taulan serta fakir miskin sebelum kita mengajak orang bershodaqoh. Berhentilah merokok sebelum menyuruh anak anda berhenti merokok. Tekanlah ego anda dan tebarkanlah senyum sebelum anda menyuruh orang lain berperilaku santun.”
“Ketahuilah, bahwa yang paling aku sedihkan saat ini adalah buruknya citra Islam karena buruknya perilaku sebagian Ummatku. Mereka bernama Muhammad, Abdullah, Thariq, Badruddin, Saifullah, Ansyari tetapi kelakuannya jauh lebih biadab dari orang-orang jahiliyah di zamanku. Perangai buruk mereka jelas akan sangat negatif dampaknya terhadap dakwah islam. Karena orang diluar sana akan melihat cerminan Islam dari apa yang dilakukan oleh para pemeluknya.”
“Wahai saudaraku berusahalah untuk bergaul dan membina hubungan kemasyarakatan secara harmonis, karena kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa orang lain. Memang tidaklah mudah untuk bergaul apalagi mengatur orang banyak. Mereka datang dari berbagai latar belakang dengan kepentingan yang berbeda-beda.”
“Janganlah berkecil hati bila bila berjumpa dengan orang yang sulit diatur atau bermuka dua karena dulu pun aku pernah mengalaminya. Anda bayangkan bagaimana sulitnya menyatukan ratusan atau ribuan pengungsi dari Makkah (Muhajirin) yang kelaparan, tidak punya harta, tidak punya mata pencaharian dan tidak punya rumah di Madinah. Mereka meninggalkan segalanya di Makkah demi Keimanannya. Aku juga bertanggung jawab untuk membesarkan hati orang Madinah untuk menolong para pengungsi tersebut. Ironisnya penduduk Madinah pun tidak homogen. Diantara kaum Anshar ada kabilah Auz dan kabilah Khazraj yang sudah ratusan tahun berperang memperebutkan pepesan kosong. Disamping Auz dan Khuzraj ada juga kaum kristiani bani Najran dan belasan suku yahudi yang sangat kuat mencengkram perekonomian Madinah. Mereka itu adalah bani Nadhir, bani Qainuqa’, banin Quraizhah, bani Ikrimah, bani al-Syaziyah, bani Mahmar, bani Zau’ra, bani Jusy’am, bani Bahdal, bani al-Qisash, dan bani Sa’labah. Tetapi Aku bersyukur kepada Allah dapat menyatukan mereka melalui Piagam Madinah. Melalui Piagam Madinah mereka bahu membahu membangun kota dan peradaban baru.”
“Wahai saudaraku, ada dua cara yang kuterapkan dalam membina individu demikian juga masyarakat agar tertib dan teratur yaitu melalui pendidikan dan penegakan hukum. Ingatlah, ketika pendidikan Aku tidak bermaksud dengan proses alih informasi dan transmisi data semata, tetapi kumaksudkan adalah Tarbiyyah yang terambil dari kata Rabba , Yarbu (tumbuh, bertambah, berkembang) atau Rabba, Yarubbu (mengatur ,mengurus, mendidik). Tarbiyyah mengambil tempat bukan hanya di kelas, tetapi di rumah, di Masjid, di gunung, saat Sholat, saat Berhaji, saat berolah raga, saat rapat, dan ketika berinteraksi dengan masyarakat. Aku berharap dengan Tarbiyyah yang benar ummatku akan melakukan transformasi dan berkembang ke arah yang lebih baik dari sisi fisik, intelektual, financial dan spiritual.”
  “Kalau engkau pelajari hadits-haditsku, engkau akan mendapatkan belasan bahkan puluhan metode yang telah ku contohkan agar proses Tarbiyyah dapat berjalan dengan baik. Diantara metode-metode tersebut adalah learning conditioning, active interactyion, appied-learning method, scanning and leveling, discussion and feedback, story-telling, analogy and case study, teaching and motivating, body language, picture and graph technology, reasoning and argumentation, self-reflection, affirmation and repetition, focus and point basis, question and answer method, guessing with question, encouraging students to ask, wisdom in answering question commenting on student question and honesty.”
“Walaupun metode-metode Tarbiyyah dariku sudah sangat beragam, tidak sedikit dari ummatku yang tetap keras kepala dan bebal. Mereka tidak bisa ditundukkan dengan ajaran Al-Qur’an atau hadits-hadits yang berisi nasihat-nasihat. Sebagian ummatku tidak bergeming ketika mendengar larangan minuman keras. Mereka baru berhenti mabuk ketika cambuk mengenai badannya. Mereka juga tidak takut dengan larangan mencuri, tangannya baru berhenti korupsi ketika dirinya sudah didalam penjara. Mereka juga tidak sungkan-sungkan menggauli wanita diluar nikah, tidak takut dengan peringatan zina sampai penyakit AIDS yang berupa kutukan ALLAH menimpanya. Oleh karena itu system perlu ditegakkan.”
“Ingatlah wahai saudaraku, tegakkanlah hukum dengan Seadil-Adilnya! Dengarkanlah alasan dan argumentasi dari seetiap pihak sehingga kau mendapat gambaran dengan penuh. Jika dating seorang dengan berperkara dengan memperlihatkan matanya yang hancur sebelah sabarlah dahulu sampai pihak kedua dating, siapa tahu pihak kedua dating dengan kedua mata yang hancur dan buta. Janganlah kau bersikap keras kepada yang lemah dan lunak kepada yang kuat. Jangan kau putar balikkan putusan perkara hanya karena uang sepuluh, dua puluh, seratus atau dua ratus juta, atau sepuluh, dua puluh milyar. Ingatlah, berapapun uang sogokan yang engkau terima tidak akan cukup untuk menebusmu dari siksaan ALLAH di Neraka Jahannam. Lebih dari itu, semakin banyak uang haram yang engkau terima semakin banyak kayu bakar neraka yang akan dinyalakan dengannya.”
“Wahai saudaraku, jagalah agama Islam ini baik-baik! Aku dan Shahabat-shahabatku dahulu memperjuangkannya dengan tetesan keringat, air mata dan darah. Selama sepuluh tahun tidak kurang dari sembilan peperangan besar dan lima puluh tiga ekspedisi militer ku jalani. Dengan segala kekurangan bekal dan kesederhanaan senjata, sedikit demi sedikit bumi ALLAH dibebaskan dari belenggu kejahiliyahan.”
“Wahai saudaraku, janganlah egois dan sok sibuk, sehingga tidak mau berjuang serta berkorban untuk Islam, karena alasan keterbatasan waktu bisnis dan mengurusi proyek. Niscaya jika Shahabatku Abu bakar,  Umar, Utsman, Ali, Hamzah, Saad bin Abdurrahman ibn Auf mengatakan “I am too busy with my business, I don’t have time for Islam” Aku yakin Islam tidak akan sampai ke Jakarta, Surabaya, Medan, Brunei, Kuala Lumpur, New Delhi, Islamabad, Tunisia, atau Casablanca, juga Kampung Halaman kalian masing-masing. Islam sampai ketempat kalian karena jasa-jasa mereka.”
“Wahai saudaraku, dalam setiap ekspedisi militerku terdapat Ibrah, Pelajaran dan Hikmah  yang berguna ketika engkau menyusun strategic planning baikuntuk pengembangan bisnis, pendidikan, memajukan karir ataupun bidang sosial kemasyarakatan.”
“Wahai saudaraku, akhirnya aku ingin meninggalkan dua hal sebagai oleh-oleh perjumpaanku denganmu. Ambil keduanya dengan baik peganglah erat-erat, Aku berjanji selama engkau berpedoman kepada keduanya engkau akan sukses di dunia dan akhirat. Itulah Al-Qur’an dan Sunnahku.”
Setelah cukup puas mendengarkan Rosulullah bertutur dan memberi nasihat akhirnya anda berkata, “Terima Kasih Banyak Wahai Baginda Rosul, Engkau telah memberikan nasihat dan suri tauladan yang begitu mulia hari ini padaku.” Tidak lama setelah itu anda pun berpisah dengan menyalami dan memeluk Rosul Mulia itu.
Penutup;
Teman-teman saya mohon maaf jika dalam menggambarkan diskusi dengan Rosulullah ada yang tidak pada tempatnya. Tetapi pada intinya kita harus mempersiapkan jawaban jika satu saat nanti berjumpa dengannya dan beliau menyapa kita, “Benarkah kau cinta Kepadaku? Sejauh mana kau telah mengikuti Sunnahku? Sudahkah kau amalkan Suri Tauladanku? Sejauh mana Ia telah mewarnai Kehidupanmu?
Mudah-mudahan kita dapat memberikan jawaban seperti yang beliau kehendaki ketika Beliau mengemukakan pertanyaan-pertanyaan diatas diperjumpaan dengan Beliau kelak di Akhirat…AMIIN YA RABB AL-ALAMIN.
 
 Inspirasi dari buku “MUHAMMAD SAW The Super Leader Super Manager”
(Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec  / Nio Gwan Chung)
posted by Jony Pamungkas @ 21.31   0 comments
Mengenai Saya

Name: Jony Pamungkas
Home: Indonesia
See my complete profile
Waktu adalah Pedang
Posting Sebelumnya
Arsip
Lintas Berita
Spirit

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman" (QS. Al-Imran : 139)

Save Palestine!

pal
BLOGGER


I made this widget at MyFlashFetish.com.